Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra) pada Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian Republik Indonesia terus mendorong petani bisa mengoptimalisasi lahan rawa, sehingga dapat melakukan tanam dua hingga tiga kali dalam satu tahun.

Salah satu caranya, dengan melahirkan para petani milenial yang bisa "menyulap" lahan rawa jadi produktif.

"Kami punya Taman Sains Pertanian Lahan Rawa
yang dilengkapi Laboratorium tanah, tanaman, pupuk dan air. Setiap bulannya, ada sekitar 30 sampai 40 pelajar Sekolah Menengah Kejuruan Pertanian Pembangunan (SMK-PP) Negeri Banjarbaru magang untuk belajar bagaimana budidaya pada lahan rawa. Para calon petani milenial ini diharapkan jadi paham dan menguasai betul terkait pengembangan lahan rawa," kata Kepala Balitra Hendri Sosiawan.

Areal lahan kosong seluas 25 hektar di Kantor Balitra di Jalan Kebun Karet, Kelurahan Loktabat Utara, Kota Banjarbaru memang dijadikan kebun percobaan. 

Setiap tahun, ada penanaman berbagai komoditas seperti padi, jagung, pepaya, semangka, jeruk hingga konservasi tanaman buah-buah eksotik lahan rawa lainnya seperti durian, kasturi hingga kueni yang mempunyai sifat unggul tahan genangan dan kemasaman tanah yang cukup ekstrim.

"Jadi kami terbuka untuk seluruh masyarakat yang ingin belajar. Silahkan datang, bertanya dan lihat sendiri hasilnya," tutur Hendri kepada Kantor Berita Antara, Selasa (12/3).
Pria lulusan Sarjana Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada ini  memang getol ingin terus menggaungkan kemajuan bidang pertanian, sebagaimana program Kementerian Pertanian terus berupaya melakukan peningkatan produksi mulai dari pemilihan benih berkualitas, upaya peningkatan Luas Tambah Tanam (LTT), sampai optimalisasi lahan seperti memberdayakan lahan rawa menjadi area persawahan.

Untuk itu, Hendri mengajak seluruh petani merubah paradigma agar melek teknologi dalam meningkatkan produksi. Dimana petani harus bersinergi dengan peneliti, termasuk mulai menanam varietas benih padi unggul, selain jenis lokal seperti padi siam unus dan sebagainya.

"Masyarakat Banjar memang padi siam masih kesenangan berasnya dan harganya lebih mahal pasti petani suka. Tapi lahan rawa lebak di Kabupaten Hulu Sungai Utara, sudah banyak menanam padi unggul Inpari dan Mekongga, walaupun padi-padi lokal masih ditanam," beber peraih gelar S2 Hidrologi dan Lingkungan dari Ecole Nationale Superieure Agronomique (ENSA) Montpellier, Prancis ini.

Hendri juga mengungkapkan, untuk mendorong kesejahteraan petani berbasis koperasi yang dikorporasikan melalui Program Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani (Serasi), target satu juta hektar dari total 34,1 juta hektar potensi lahan rawa di Indonesia, salah satunya di Kalimantan Selatan jadi harapan besar.

Hendri pun rajin turun ke lapangan bersama jajaran melakukan pendampingan kepada petani di seluruh wilayah di Kalimantan Selatan guna menerapkan teknologi pertanian di lahan rawa agar bisa menghasilkan berbagai macam komoditas pertanian dengan produksi yang tinggi.

Adapun inovasi pengembangan lahan rawa menjadi lahan pertanian yang subur dan produktif bisa diwujudkan dengan panca kelola lahan rawa.

Pertama, teknologi pengelolaan air untuk mengatur debit air di lahan rawa yang selalu tergenang. Caranya, optimalisasi jaringan tata air untuk mengendalikan tinggi muka air di saluran dan lahan sawah.

"Pada lahan sulfat masam, untuk mencegah timbulnya pirit sekaligus menyediakan cadangan air ketika air surut di musim kemarau," paparnya.

Kedua, penyiapan dan penataan lahan.
Ketiga, teknologi ameliorasi dan pemupukan untuk meningkatkan kualitas tanah. 

"Ameliorasi untuk memperbaiki sifat fisik tanah, kimia dan biologi tanah sehingga lebih sesuai bagi tanaman," jelas Hendri lagi.
Sedangkan keempat, teknologi pertanaman yang tepat. Seperti tahapan budidaya padi, dianjurkan teknologi mekanis dengan traktor untuk penyiapan lahan. Persemaian basah, tanam dengan metode transplanting atau tabela dengan jajar legowo. Ketika panen dan pascapanen, mekanis dengan kombinasi harvester (mesin penuai).

Kelima, pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) atau hama. Dengan pestisida nabati menggunakan sumberdaya lokal, pemanfaatan musuh alami, tanaman perangkap hingga pengendalian tikus menggunakan trap barrier system (sistem penghalang perangkap).

"Implementasi panca kelola lahan rawa dalam budidaya padi melalui revitalisasi infrastruktur pertanian (tanggul, saluran irigasi atau drainase, JUT, pompanisasi, pintu air, tabat) merupakan kunci utama keberhasilan optimasi lahan rawa mendukung kedaulatan pangan nasional," tandas pria asal Kota Blitar, Jawa Timur ini.

Selain itu, agar berkelanjutan maka teknologi panca kelola lahan rawa harus juga didukung kelembagaan petani yang kuat.

Hendri menegaskan, jika bulan April mendatang adalah momentum paling bagus penanaman, dimana air sudah terkendali. Melalui Program Serasi, pemerintah membenahi infrastruktur pertanian di lahan rawa agar musim kemarau air bisa masuk ke lahan.

Di Kalsel sendiri tahun ini ada 250.000 hektar lahan rawa yang dikemas dalam Program Serasi. Terdiri dari enam kabupaten, yakni Kabupaten Barito Kuala, Tanah Laut, Banjar, Tapin, Hulu Sungai Selatan dan Hulu Sungai Utara.

"Seperti contohnya di Desa Terantang,  Kecamatan Mandastana, Kabupaten Barito Kuala, Balittra masuk tahun 1999 di sama kita benahi dengan mengembangkan teknologi pengolahan lahan. Dengan semangat tagline 'rawa bisa', musim tanam kedua petani mau menanam terus kita gelorakan. Apalagi Peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) 2018 yang dipusatkan di Desa Jejangkit harus dijadikan momentum bangkit dan majunya pertanian di Banua Kalsel yang sebagian besar merupakan lahan rawa," pungkas Hendri yang memimpin Balittra sejak Agustus 2017.  

Pewarta: Firman

Editor : Imam Hanafi


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Selatan 2019