"Orong-orong" atau ketupat kosong/belum berisi turut mewarnai pasar tradisional di Banjarmasin Kalimantan Selatan (Kalsel) dan daerah sekitar menjelang Idul Fitri 1445 Hijriah.

Pantauan ANTARA Kalsel di Banjarmasin, Ahad, melaporkan orong-orong yang mewarnai pasar tradisional di kota berjuluk "seribu sungai" tersebut dan daerah sekitar ada dua jenis yaitu terbuat dari daun nipah dan pucuk kelapa.

Dari kedua jenis ketupat yang bahan baku serta ukuran besar berbeda itu juga dengan harga jual beda antara lain seperti pada pasar pagi Kelurahan Pemurus Dalam Banjarmasin Selatan dan Pasar Ahad Kertak Hanyar Kabupaten Banjar (tetangga Banjarmasin).

Harga orong-orong dari pucuk daun kelapa, walau ukuran besar lebih kecil daripada daun nipah, justru relatif lebih mahal dengan hitungan jual per sepuluh biji/buah.

Orong-orong dari pucuk daun kelapa sekitar Rp10.000/10 biji dan bisa lebih, sedangkan yang terbuat dari daun nipah hanya Rp8.000,00.

Kalau dibandingkan dengan suasana menyambut lebaran tahun lalu, pada 1445 H/2024 M harga orong-orong relatif lebih mahal yaitu dulu per seluruh biji, untuk daun kelapa sekitar Rp8.000 dan daun nipah Rp6.000.

"Tak masalah harga agak mahal sedikit, tapi barangnya ada. Coba sudah harga 'larang' (mahal) barangnya 'kads ada' (tidak ada)," ujar Mama Surya, seorang pedagang di pasar pagi Pemurus Dalam.

Peruntukan orong-orong dari daun kelapa buat suguhan ketupat lontong atau popular dengan sebutan "Ketupat Kandangan" (Kandangan, ibukota Kabupaten Hulu Sungai Selatan/HSS sekitar 135 km utara Banjarmasin).

Sedangkan orong-orong terbuat dari daun nipah pada umumnya untuk membuat lontong Soto Banjar atau "Katupat batumis" (pakai sayur) yang sering/tradisi mantan Wakil Gubernur Kalsel HM Rosehan Noor Bahri menyuguhi tamu di hari lebaran.

Sementara Katupat Kandangan pada umumnya lawuk "iwak haruan" (ikan gabus), bisa pula opor ayam, "hintalu bajaruk" (telur asin).

Sekretaris Komisi IV Bidang Kesra DPRD Kalsel yang juga membidangi kebudayaan dan adat istiadat, Firman Yusi mengapresiasi warga masyarakatnya yang melestarikan suguhan berupa Katupat Kandangan dan katupat batumis ataupun Soto Banjar.

"Begitu pula urang-urang Banjar perantauan atau di pamadanan yang melestarikan 'susurungan' (hidangan) Katupat Kandangan, katupat batumis dan Soto Banjar, kita apresiasi," ujar Firman Yusi yang juga Sekretaris Fraksi PKS DPRD Kalsel.

Pewarta: Syamsuddin Hasan

Editor : Hasan Zainuddin


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Selatan 2024