Pakar Kesehatan Masyarakat dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin, Kalimantan Selatan Prof Dr dr Syamsul Arifin MPd mengingatkan pentingnya meningkatkan optimalisasi tingkat kekebalan anak di tengah larangan penggunaan obat sirop akibat merebaknya kasus ginjal akut.

"Kondisi saat ini mengharuskan para orang tua menjaga agar buah hatinya tidak sampai sakit karena jika sakit akan kesulitan untuk mendapatkan obat sirop," kata dia di Banjarmasin, Senin.

Menurut Syamsul, orang tua harus mengenali dengan baik ciri-ciri buah hatinya dalam kondisi sehat dan melakukan berbagai upaya agar kondisi kesehatan anaknya tetap baik.

Secara umum ciri-ciri anak sehat meliputi tumbuh kembang sesuai usia, rambut, kulit dan kuku bersih sehat, nafsu makan baik dan buang air besar teratur serta tidur nyenyak dalam waktu yang cukup.

Adapun beberapa cara yang bisa dilakukan orang tua untuk menjaga kesehatan anak dengan memenuhi asupan nutrisinya seperti pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif, gizi seimbang dengan memilih makanan dengan jenis dan jumlah yang tepat sesuai usia termasuk higienitasnya. 

Kemudian menjaga kebersihan tubuh, kebersihan ruang di rumah dan kebersihan kamar mandi yang rentan terjadi penyebaran virus penyakit.

"Ajak anak agar aktif bergerak dengan cara mengerjakan aktivitas fisik favoritnya. Kemudian jadilah contoh bagi anak dengan membatasi menonton televisi dan penggunaan gawai," papar Guru Besar Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran ULM itu.

Syamsul menyebut orang tua juga harus mematuhi jadwal imunisasi untuk anaknya seiring Kementerian Kesehatan telah mengubah konsep imunisasi dasar lengkap menjadi imunisasi rutin lengkap yang terdiri dari imunisasi dasar dan lanjutan. 

"Imunisasi dasar saja tidak cukup, diperlukan imunisasi lanjutan untuk mempertahankan tingkat kekebalan yang optimal, tentunya pemberian imunisasi disesuaikan dengan usia anak," jelas dia.

Diketahui berdasarkan penelitian Kementerian Kesehatan, 75 persen penyebab gangguan ginjal akut pada anak karena senyawa kimia kandungan polietelin glikol. 
      
Kandungan itu bisa menimbulkan senyawa berbahaya seperti etilen glikol (EG) dan Dietlien Glikol (DEG) yang biasanya digunakan sebagai pelarut obat sirop dan sangat berbahaya jika melebihi nilai ambang batas yaitu 0,5 mg/kg BB perhari.

Kementerian Kesehatan melaporkan pada tanggal 21 Oktober 2022 mendata 241 kasus di 22 provinsi. Angka kematian dari 241 kasus ini mencapai 55 persen atau 133 anak dinyatakan meninggal dunia.

Gangguan ginjal akut dapat diartikan sebagai penurunan cepat dan tiba-tiba pada fungsi filtrasi ginjal. 
        
Kondisi ini biasanya ditandai oleh peningkatan konsentrasi kreatinin serum atau azotemia (peningkatan konsentrasi BUN) atau penurunan sampai tidak ada sama sekali produksi urin. 

Pewarta: Firman

Editor : Imam Hanafi


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Selatan 2022