Hal itu dikemukakan Ketua DPW PKB Kalsel H. Mulyadi Mangin di Banjarmasin, Selasa terkait rencana muktamar yang digelar Yenny Wahid dan Lily Wahid.
Yenny putri almarhum H Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Lily saudara Gus Dur tersebut akan menggelar muktamar PKB pada waktu dan tempat berbeda sekitar Desember 2010.
"Kami tidak akan menghadiri kedua muktamar tersebut kecuali ada petunjuk atau instruksi resmi dari DPP PKB di bawah kepemimpinan Muhaimin," tegasnya.
Yenny dan Lily melakukan pendekatan untuk hadir di muktamar itu namun kami tetap loyal pada partai (PKB) yang diakui pemerintah, tambahnya.
Mantan Ketua PKB Cabang Banjarbaru yang dipecat Gus Dur tersebut mengingatkan, seluruh pengurus cabang termasuk provinsi agar tidak menghadiri muktamar yang digelar Yenny dan Lily.
"Pada prinsipnya kami tidak ingin menghalangi mereka yang mau hadir baik yang digelar Yenny maupun Lily karena itu merupakan hak asasi seseorang," kata Ketua Fraksi Kebangkitan Bintang Nurani Rakyat (KBNR) DPRD Kalsel itu.
Namun semua punya aturan yang mengacu pada Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga partai jadi kalau ada pengurus yang tidak loyal maka akan dikenakan sanksi organisasi berupa pemecatan baik sebagai keanggotaan maupun kepengurusan partai, tandasnya.
Fraksi KBNR DPRD Kalsel yang beranggotakan lima orang merupakan gabungan dari PKB sebanyak tiga, Partai Bulan Bintang (PBB) dan Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) masing-masing satu orang.
Kemungkinan terjadi mobilitas pengikut Gus Dur di Kalsel dia menyatakan, hal tersebut merupakan hak mereka untuk menghadiri Muktamar PKB yang digelar kedua keluarga presiden keempat Republik Indonesia itu.
"Ya saya dengar kemungkinan mantan Ketua DPW PKB Kalsel H.M Rosehan NB yang juga mantan Wagub Kalsel akan hadir dalam Muktamar PKB yang digelar Yenny di Jawa Timur, 28 Desember 2010," ungkapnya.
DPW PKB Kalsel sekarang tidak ada hubungan organisatoris dengan Rosehan karenanya tidak akan kena sanksi organisasi, demikian Mulyadi Mangin.*6*
: Abdul Hakim Muhiddin
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.