Sebanyak 16 perusahaan eksportir rotan bulat dan industri rotan setengah jadi di Kalimantan Selatan gulung tikar setelah diberlakukannya peraturan tentang larangan mengekspor rotan mentah dan setengah jadi ke luar negeri.


Kabid Perdagangan Luar Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kalimantan Selatan Gusti Yasni Iqbal di Banjarmasin, Selasa mengatakan tutupnya 16 perusahaan eksportir rotan tersebut menyebabkan puluhan tenaga kerja di perusahaan tersebut kini kehilangan pekerjaan.

Selain itu, kata dia, diperkirakan volume dan nilai ekspor rotan di Kalsel pada 2012 juga akan menurun drastis.

Penghentian ekspor rotan tersebut berdasarkan peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 35 Tahun 2011 tentang Larangan Ekspor Rotan dan Permendag Nomor 36 Tahun 2011 tentang Pengaturan Pengangkutan Rotan Antar Pulau.

"Sejak awal Januari 2012 kita telah melaksanakan peraturan tersebut, sehingga saat ini tidak ada lagi rotan dari Kalimantan Tengah yang diangkut ke Kalsel," katanya.

Menurut Gusti, pada 2011 ekspor rotan asal Kalimantan Tengah yang dikirim oleh pengusaha asal Kalsel ke berbagai negara sebanyak 20,2 ribu ton naik sebesar 149 persen lebih dibanding 2010 yang hanya sekitar 8 ribu ton.

Dari jumlah ekspor tersebut, 90 persen merupakan rotan bulat dan rotan setengah jadi dan hanya sepuluh persen merupan industri barang jadi berbahan baku rotan.

Menurut Iqbal, secara menyeluruh, kenaikan maupun penurunan ekspor rotan tidak terlalu berpengaruh terhadap target kenaikan volume ekspor Kalsel, karena nilainya sangat kecil dibanding ekspor sektor lain.

"Naik maupun turun seribu persen ekspor rotan tersebut tidak terlalu berpengaruh terhadap volume maupun nilai ekspor Kalsel secara menyeluruh," katanya.

Namun demikian, kata dia, pengaruhnya tetap cukup besar terhadap industri dan perusahaan rotan di Kalsel.

Sementara itu, nilai ekspor rotan Kalsel juga naik 147,88 persen pada 2010 sekitar 8,4 juta dolar AS dan 2011 menjadi 20,9 juta dolar AS.

Diharapkan, kebijakan larangan ekspor rotan bulat tersebut akan mampu mendongkrak industri kerajinan barang jadi di Kalsel yang selama ini terpuruk, salah satunya karena tidak adanya bahan baku.

Sebelumnya, staf Humas Kabupaten HSU Halidiyah mengatakan, pada 1987 jumlah usaha lampit rotan di daerahnya sebanyak 600 perusahaan, dan mampu memproduksi 800 ribu meter kubik per tahun.

Pada 2010, kata dia, industri tersebut tersisa 30 unit usaha dengan produksi 40 ribu meter kubik.

Industri anyaman rotan, kata dia, sebanyak 205 unit usaha dengan produksi 197 ribu buah dengan berbagai macam jenis anyaman./B/C




Editor : Imam Hanafi

COPYRIGHT © ANTARA 2026