Rantau (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Tapin, Provinsi Kalimantan Selatan, memperkuat pengelolaan sampah berbasis masyarakat dengan menargetkan pengurangan volume sampah desa hingga 50 persen melalui pemilahan dan pemanfaatan sampah organik.

Upaya tersebut dilakukan melalui workshop (lokakarya) pengelolaan sampah terpadu yang digelar Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tapin di Desa Ayunan Papan, Rabu, melibatkan warga, karang taruna, dan pengelola bank sampah setempat.

JF Pengendali Dampak Lingkungan Bagian Pengurangan Sampah DLH Tapin Hadi Rahman mengatakan, workshop pengelolaan sampah terpadu di Desa Ayunan Papan ini menjadi langkah memperkuat penanganan sampah dari tingkat rumah tangga agar tidak seluruhnya berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA).

Baca juga: Pemkab Tapin bentuk tim percepatan atasi persoalan sampah

“Melalui workshop ini kami memberikan edukasi terkait pengelolaan sampah terpadu, mulai dari pemilahan sampah rumah tangga hingga pemanfaatan maggot (larva) untuk mengurangi volume sampah organik,” ujar Hadi di Rantau, Kabupaten Tapin, Jumat.

Ia menyebutkan, pengelolaan sampah berbasis masyarakat dinilai lebih efektif, karena warga terlibat langsung dalam proses pemilahan dan pemanfaatan limbah rumah tangga.

Menurut Hadi, sampah organik yang sebelumnya dibuang dapat diolah menjadi pakan maggot, sedangkan sampah lain dapat dimanfaatkan menjadi produk bernilai ekonomis.

“Kami berharap sampah bisa berkurang hingga 50 persen karena sudah dipilah dan dimanfaatkan langsung oleh masyarakat di desa,” katanya.

Baca juga: DLH Tapin andalkan maggot untuk kurangi sampah organik

Hadi menjelaskan, workshop yang berlangsung di kawasan Integrated Farm System Ayunan Papan itu juga menjadi bagian dukungan terhadap program Aku Hatinya PKK 2026, dengan Desa Ayunan Papan mewakili Kabupaten Tapin pada tingkat Provinsi Kalimantan Selatan.

Sementara itu, Sekretaris Desa Ayunan Papan Fathul Hidayat mengatakan, edukasi pengelolaan sampah memberi dampak langsung terhadap kesadaran masyarakat menjaga lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi baru.

“Ini sangat bermanfaat untuk menjaga kebersihan lingkungan. Sampah yang sebelumnya dianggap tidak berguna ternyata bisa dimanfaatkan menjadi pupuk maupun kerajinan,” ujarnya.

Fathul berharap, pelatihan serupa dilakukan secara berkelanjutan agar pengelolaan sampah tidak hanya berfokus pada kebersihan lingkungan, tetapi juga meningkatkan nilai ekonomi masyarakat desa.



Pewarta: Muhammad Rastaferian Pasya
Editor : Mahdani

COPYRIGHT © ANTARA 2026