Oleh sebab itu, perbedaan tersebut jangan atau tidak perlu dibesar-besarkan
Hulu Sungai Tengah Kalsel (ANTARA) - Ustadz Mahfudz menyatakan perbedaan itu selain merupakan rakhmat, juga sebagai tanda Kemahabesaran dan Kemahakuasaan Allah SWT.
"Oleh sebab itu, perbedaan tersebut jangan atau tidak perlu dibesar-besarkan," ujar Ustadz Mahfudz dalam tausyiah di Masjid Su'ada Desa Aluan Mati, Kecamatan Batu Benawa - pinggiran Pegunungan Meratus, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Kalimantan Selatan, sesudah shalat Subuh, Jum'at.
Ustadz keluaran Pondok Pesantren (Ponpes) Al Amin Pemangkih (sekitar 151 km utara Banjarmasin), Kecamatan Labuan Amas Utara, HST itu menunjuk contoh lebaran Idul Fitri 1447 Hijriah yang alami perbedaan waktu, tidak perlu dipersoalkan atau dibesar-besarkan.
"Perbedaan itu ada hikmah dan makna tersendiri yang mungkin kita manusia belum mampu mengetahui secara mendalam, seperti halnya siang - malam, hitam - putih, dan sebagainya," ujar ustadz muda tersebut yang sewaktu bernama Iksir, namun ketika di Ponpes Al Amiin Pemangkih ganti dengan nama Mahfudz.
Baca juga: Kemenag Kalsel pantau hilal 1 Syawal 1447 H di Banjarmasin
Ustadz Mahfudz menekankan, sebagai seorang Muslim bagi yang berlebaran "badahulu" (lebih dulu) bersyukur, dan bagi mereka yang belakangan agar bersabar, karena hal itu sudah ketentuan Allah, imbaunya seraya mengatakan, bahwa nilai sabar tiada bisa manusia mengukurnya.
Dalam konteks perbedaan tersebut, Ustadz Mahfudz mengutip Al Qur'an Surah Al Imran ayat (190) yang menegaskan, bahwa penciptaan langit, bumi, dan pergantian siang-malam adalah tanda kebesaran Allah bagi Ulul Albab (orang berakal).
"Maknanya, manusia dianjurkan bertafakur atas alam semesta untuk memperkuat keimanan, tidak menyia-nyiakan waktu, dan menyadari kekuasaan Allah. Ayat 190 Al Imran tersebut mendorong keseimbangan zikir dan pikir," kutupnya.
Mengawali tausyiah, cucu dari Sabri, seorang yang suka "madam" (merantau) itu mengemukakan peran ilmu dalam kehidupan seseorang. "Dengan ilmu kemana pun kita madam dan di kampung halaman sekali pun akan hidup tenang serta mendapatkan berkah Nya," ujar Ustadz muda tersebut.
Sebaliknya, lanjut Ustadz Mahfudz, tanpa ilmu sekalipun di kampung halaman kehidupan bisa "kada kakaruan" (tidak menentu). Apalagi kalau madam tanpa ilmu kehidupan bisa susah.
Sebelum mengakhiri tausyiah, dia mengungkapkan sebauh Hadits Rasulullah Muhammad SAW yang berisikan antara lain bahwa hikmah/makna puasa, seperti halnya puasa Ramadhan yaitu menanamkan disiplin, sikap sosial atau peduli, terutama kepada mereka yang membutuhkan seperti bersedekah, serta sabar.
"Bila makna yang terkandung dalam ibadah puasa menjiwai kita semua, InsyaAllah tak ada masalah dalam kehidupan kita," demikian Ustadz Mahfudz.
Pewarta: Syamsuddin HasanEditor : Firman
COPYRIGHT © ANTARA 2026