Banjarmasin (ANTARA) - Mantan Anggota DPR RI Abd Latief Hanafiah yang juga Eksponen Angkatan 66 berpendapat, bahwa nilai-nilai juang "Tri Tura" atau tiga tuntutan rakyat masih aktual bagi generasi sekarang memperjuangkan.
Alumnus Institut Teknologi Bandung (ITB) Jawa Barat (Jabar) itu mengemukakan pendapatnya di sela-sela ziarah ke makam Pahlawan Ampera Hasanuddin Haji Madjedi atau satu Komplek dengan Pahlawan Nasional Pangeran Antasari di Jalan Masjid Jami' Banjarmasin, Selasa.
Menurut Eksponen 66 yang kini berusia 80 tahun, inti Amanat Penderitaan Rakyat (Ampera) tidak terlepas dari "Tri Tura" atau tiga tuntutan rakyat pada waktu itu yakni "Bubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI) bersama antek-anteknya".
Selain itu, " Bubarkan Kabinet 100 Menteri " dan "Turunkan Harga Sandang Pangan," ujar Abd Latief, kelahiran Amuntai (185 km utara Banjarmasin), ibukota Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Kalimantan Selatan (Kalsel) tersebut.
"Secara formal Tura satu dan dua sudah dibubarkan. Tapi nuansanya kini masih terlihat serta terasan seperti halnya dalam perpolitikan, demokrasi dan korupsi, kolusi, nepotisme (KKN)," lanjutnya.
Begitu pula halnya dengan harga sandang pangan seperti berbagai kebutuhan pokok, masyarakat bisa merasakan sendiri. "Memang sulit memberikan komentar," katanya.
Sementara Tura pertama nilai filosofinya menginginkan perpolitikan yang demokratis serta tata kelola pemerintahan lebih baik lagi. Sedangkan nilai filosofi Tura kedua terbebas dari KKN.
"Oleh sebab itu, dari sisi nilai-nilai kejuangan, nilai-nilai Ampera atau Tri Tura masih relevan dan aktual untuk diperjuangkan bersama," demikian Abd Latief Hanafiah.
Pada kesempatan terpisah, Wakil Rektor III Universitas Lambung Mangkurat (ULM d/h Unlam) Banjarmasin Dr Muhammad Rusmin Nuryadin SE, MSi berpendapat hampir senada dengan Eksponen 66 Abd Latief, bahwa perjuangan Ampera belum selesai.
Karenanya, dia berharap, generasi sekarang atau mahasiswa ULM khususnya meneladani/melanjutkan nilai-nilai kejuangan atau perjuangan Pahlawan Ampera Hasanuddin HM yaitu melanjutkan amanat penderitaan rakyat.
Hanya saja, ujar Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni itu, metode perjuangan mungkin sedikit beda, tak harus turun ke jalan, tapi dengan cara dialog atau penyampaian pendapat, usul atau saran secara tertulis.
Acara mengenang gugurnya Pahlawan Ampera Hasanuddin HM antara lain ziarah ke makamnya dengan Inspektur Upacara Wakil Rektor III ULM, dan peserta para mahasiswa serta alumni Perguruan Tinggi Negeri (PTN) tertua di Kalsel atau Pulau Kalimantan tersebut.
Rangkaian acara; selain membacakan riwayat singkat gugurnya Pahlawan Ampera Hasanuddin HM, juga do'a bersama serta tabur bunga di Komplek Makam Pahlawan Nasional Pangeran Antasari, dan usai acara hujan turun.
Pewarta: Syamsuddin HasanEditor : Sukarli
COPYRIGHT © ANTARA 2026