"Tidak sepantasnya dekat Makam Pahlawan Nasional ada aroma tak sedap dari sampah atau bekas limbah rumah tangga," ujarnya usai menghadiri acara peringatan Hari Pahlawan Nasional 10 November 2020 di Banjarmasin, Selasa.
Semestinya, menurut wakil rakyat yang bergelar sarjana hukum, magister hukum serta mendapat gelar doktor kehormatan itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Banjarmasin jauh-jauh hari memikir tempat pembuangan sampah terpadu (TPST) dekat Makam Pahlawan Nasional Pangeran Antasari tersebut.
Oleh karenanya, politikus senior Partai Golkar tersebut berharap, siapapun nanti yang menang dalam Pilkada atau menjadi Wali Kota Banjarmasin harus memindah TPST itu ke tempat lain, jangan bau tidak mengenakan tercium peziarah.
"Dengan menjauhkan atau menghindarkan bau-bau busuk dari dekat Makam Pahlawan Nasional Pangeran Antasari tersebut, salah satu bentuk penghargaan/penghormatan kita kepada pahlawan - pendahulu yang berjuang guna negeri ini," demikian Supian HK.
Sorotan dan harapan serupa sebelumnya dari Wakil Ketua DPRD Kalsel Muhammad Syaripuddin SE sepulang ziarah ke Makam Pahlawan Nasional Pangeran Antasari saat peringatan gugurnya Pangeran Antasari yang gugur masa Hindia Belanda 11 Oktober puluhan tahun lalu.
Politikus muda Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang juga mantan anggota DPRD Kabupaten Tanah Bumbu (Tanbu), Kalsel itu mengaku heran sampai membangun TPST dekat Makam Pahlawan Nasional Pangeran Antasari.
"Apakah tidak menganalisa dampak lingkungan dari keberadaan TPST dekat Makam Pahlawan Nasional Pangeran Antasari yang merupakan pahlawan kebanggaan kita," demikian Bang Dhin (sapaan akrab dari Muhammad Syaripuddin).
Keberadaan Makam Pahlawan Nasional Pangeran Antasari itu puluhan tahun jauh sebelum pembangunan TPST yang berjarak hanya beberapa meter dengan Komplek makam tersebut yang juga ada makam Pahlawan Ampera Hasanuddin Hadji Madjedi yang gugur 10 Februari 1966.
Hasanuddin HM, mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin - Pahlawan Amanat Penderitaan Rakyat (Ampera) pertama yang gugur di Indonesia dalam perjuangan Angkatan 66 menggulingkan pemerintahan Orde Lama dengan dalangnya Partai Komunis Indonesia (PKI).
Hasanuddin HM yang ketika itu masih kuliah pada tingkat persiapan, gugur sepulang demonstrasi dari Konsulat Republik Rakyat Tjina (RRT) di Jalan Pacinan Laut Banjarmasin. Kemudian 24 Februari 1966 menyusul gugur Arief Rahman Hakim - mahasiswa Universitas Indonesia (UI) Jakarta.
Pewarta: Syamsuddin HasanEditor : Imam Hanafi
COPYRIGHT © ANTARA 2026