Sebagaimana kita ketahui, perjuangan Hasanuddin HM bersama Angkatan 66 lainnya ketika itu menginginkan tetap tegak dan utuhnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tanpa campur tangan asing,Banjarmasin, (Antaranews Kalsel) - Gubernur Kalimantan Selatan H Sahbirin Noor meminta mahasiswa di provinsinya agar mewarisi semangat perjuangan dan kejuangan Pahlawan Ampera Hasanuddin Haji Madjedi.
Permintaan orang nomor satu di jajaran Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Selatan (Kalsel) tersebut mengawali napak tilas gugurnya Pahlawan Ampera Hasanuddin HM di Banjarmasin, Sabtu.
"Sebagaimana kita ketahui, perjuangan Hasanuddin HM bersama Angkatan 66 lainnya ketika itu menginginkan tetap tegak dan utuhnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tanpa campur tangan asing," ujar Gubernur Kalsel yang baru dilantik 12 Februari lalu.
"Jadi mahasiswa Kalsel atau generasi muda lain di provinsi ini jangan mudah terpengaruh asing, yang pada gilirannya bisa memecah belah persatuan dan kesatuan Bangsa Indonesia," ujarnya.
Sebelumnya Rektor Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin Prof Dr H Sotarto Hadi MS berpendapat, perjuangan Angkatan 66 masih ada relevansi dengan perjuangan Bangsa Indonesia sekarang yaitu menghendaki tetap tegak dan utuhnya NKRI.
Selain itu, Angkatan 66 dengan "TRI TURA" (tiga tuntutan hati nurani rakya), yaitu turunkan harga sandang pangan, bubarkan Kabinet 100 Menteri dan bubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI), ungkapnya.
Sedangkan Ketua Umum Pengarah Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Unlam Pangeran H Rusdi Effendi Abdurramah mengingatkan isi/teks spanduk yang dibawa Pahlawan Ampera tersebut saat demontrasi 10 Februari 1966, yaitu "Tak Ada Pilihan Lain Menjadi Bangsa Indonesia atau Asing".
Almarhum Hasanuddin HM, mahasiswa Fakultas Ekonomi Unlam tingkat persiapan (I) gugur kena tembakan oknum Batalion K Kodam Deponegoro Jawa Tengah yang di-BKO-kan (diperbantukan) ke Kalsel/Banjarmasin untuk menghantam demontrasi pemuda pelajar dan mahasiswa.
Hasanuddin HM-Pahlawan Ampera pertama yang gugur di persada nusantara Indonesia dalam mempertahankan NKRI yang berdasarkan Pancasila. Kemudian baru Arif Rahman Hakim, mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang 24 Februari 1966.
Dalam napak tilas peringatan 50 tahun gugurnya Pahlawan Ampera Hasanuddin HM itu turut pula Gubernur Kalsel, Sekdraprov setempat HM Arsyadie serta pejabat pemprov lain dan yang mewakili Kapolda Kalsel.
Rute napak tilas sekitar lima kilometer mulai halaman Bank Mandiri Cabang Banjarmasin yang sebelumnya sebagai Kampus Unlam, mampir sebentar di Ajen Dam Mulawaran Jalan KP Tendean yang dulu tempat Konsultasi Republik Rakyat Tjina (RRT/RRC).
Kemudian tabur bunga di Jalan Pangeran Samuda depan toko Menseng, tempat tersungkurnya Hasanuddin HM karena terjangan peluru dari Jon K Deponegoro, terakhir ziarah ke makam Pahlawan Ampera yang satu komplek dengan Pahlawan Nasional Pangeran Antasari di Jalan Masjid Jamik Banjarmasin.
Pewarta: SukarliEditor : Gunawan Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.