Tanjung (ANTARA) - Pondok Pesantren Al-Madaniyah Jaro Kecamatan Jaro, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan mengembangkan unit usaha produksi beras premium sebagai langkah strategis menuju kemandirian ekonomi.
Dengan mengusung brand “Beras Super Jaro” usaha ini menjadi salah satu inovasi pesantren di Desa Nalui untuk peningkatan kesejahteraan santri dan petani lokal.
Baca juga: Adaro dan YABN dorong kemandirian pesantren dengan program peternakan
Ketua BPUP Al-Madaniyah, Murdani mengatakan kurang satu bulan usaha beras premium itu telah membukukan pendapatan kotor sekitar Rp11 juta yang dialokasikan untuk kesejahteraan pesantren, operasional usaha, dan dana sosial.
"Untuk proses produksi kita lakukan secara ketat untuk memastikan kualitas terbaik," jelas Murdani, Rabu.
Mulai tahap penggilingan, pengayakan hingga pengemasan dan beras yang dijual benar-benar berkualitas.
Murdani mengatakan Ponpes membeli gabah dari petani di sekitar Kecamatan Jaro dengan harga Rp7.000 per kilogram hingga Rp7.200 per kilogram dengan kadar air di bawah 13 persen.
Pengelolaan unit usaha tersebut juga melibatkan santri kelas akhir sebagai bagian dari pendidikan kewirausahaan melalui jaringan alumni dan orang tua santri sebagai reseller.
Pemasaran “Beras Super Jaro” kini menjangkau Kota Tanjung hingga ke Provinsi Kalimantan Timur mengingat posisi Kecamatan Jaro yang berbatasan dengan Kabupaten Paser, Kalimantan Selatan.
Kualitas beras yang putih, bersih, dan pulen "Beras Super Jaro" menjadi simbol kemandirian ekonomi pesantren yang memanfaatkan potensi lokal serta memperkuat kolaborasi antara pesantren dan masyarakan dengan dukungan Yayasan Amanah Bangun Negeri (YABN) melalui Program Adaro Pesantren Sejahtera.
"Bantuan dari YABN sangat bermanfaat dan kami berharap ke depan masih ada dukungan untuk pengembangan usaha pengelolaan air minum," tambahnya.
Supervisor Bidang Ekonomi YABN, Candra Fajar Putra, menyampaikan pihaknya akan melakukan pendampingan untuk penguatan kelembagaan usaha dan penyediaan pasokan gabah.
“Untuk stabilitas pasokan gabah, kami akan membina lebih banyak petani lokal agar menjadi penyuplai tetap bagi pesantren," jelas Candra.
Baca juga: Ketua DPRD: Ponpes miliki peranan penting dalam pendidikan agama
Sedangkan penguatan kelembagaan menjadi hal penting agar usaha ini tumbuh berkelanjutan dan ke depan YABN membangun gudang penggilingan serta penyimpanan gabah milik pesantren guna mengoptimalkan proses produksi.

Sebagai bagian pendampingan, YABN membentuk Badan Pengelola Usaha Pesantren (BPUP) Al-Madaniyah dan memberikan pelatihan mulai dari kepemimpinan, tata kelola kelembagaan, hingga manajemen unit usaha.
Pada tahap awal, YABN menyalurkan permodalan Rp.283 juta untuk pembelian gabah petani, pengadaan mesin pengolahan, timbangan digital, serta kebutuhan produksi selama dua bulan pertama.
Setiap produksi, BPUP Al-Madaniyah menggiling sekitar satu ton gabah dan menghasilkan rata-rata 6,5 kuintal beras premium “Beras Super Jaro” siap jual.
Produk ini dikemas dalam ukuran 4 kilogram, 5 kilogram, dan 32 kilogram dengan harga Rp15.000 per kilogram.
