Banjarmasin (ANTARA) - Tim Universitas Lambung Mangkurat (ULM) dipimpin Dr. Amalia Rezeki sebagai doktor konservasi bekantan perempuan pertama di Indonesia mengenalkan program restorasi ekosistem lahan basah Pulau Curiak, Barito Kuala, Kalsel, kepada guru asal Bunburry Cathedral Grammar School Australia.

"Rob Brooksbank seorang guru Biologi di Bunburry Cathedral Grammar School bersama rekannya Roxanne Wilson berkesempatan mengunjungi Pulau Curiak, kami kenalkan laboratorium alam khas lahan basah di Stasiun Riset Bekantan," kata Amalia di Banjarmasin, Rabu.

Baca juga: Mengais rezeki pada kehidupan bekantan di Pulau Curiak

Menurut Amel, sapaan akrab Amalia Rezeki, kehadiran tim guru pendidikan Biologi asal Australia itu menjadi wadah sharing pengetahuan serta membangun kolaborasi di bidang edukasi dan riset

Kepada tamunya, Amel menjelaskan pada awalnya program restorasi mangrove adalah untuk upaya peletarian bekantan, monyet besar dari dunia lama dan ikon kebanggaan Provinsi Kalimantan Selatan yang keberadaannya terancam punah akibat alih fungsi lahan yang mengancam habitatnya.

Bagi Amel, kunci utama menyelamatkan bekantan adalah menyelamatkan habitatnya.

Sejak 2015, dia bersama tim Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) mulai mengembangkan program restorasi mangrove untuk memulihkan ekosistem lahan basah di dalamnya terdapat habitat bekantan.

Baca juga: Ahli konservasi ULM tingkatkan populasi udang galah di perairan Barito

Selain sebagai habitat bekantan, kata Amel, hutan mangrove mampu menyerap karbon empat kali lipat lebih besar dari hutan tropis lainnya yang penting bagi mitigasi pemanasan global pemicu perubahan iklim dan timbulnya bencana alam. 

Untuk itu, SBI bersama mitranya secara intens sejak tahun 2015 telah menanam mangrove lebih dari 20.000 pohon, khususnya di kawasan reparian sungai Barito dengan pohon utamanya rambai atau yang lebih dikenal secara ilmiah dengan sebutan sonneratia caseolaris.

Sementara Rob Brooksbank sangat takjub melihat kemajuan program restorasi mangrove yang dikembangkan oleh Amel, dosen muda Jurusan Pendidikan Biologi ULM.

Pohon yang ditanam sejak 2018 lalu di kawasan restorasi Pulau Curiak kini telah menjadi kawasan penyangga habitat bekantan dan berbagai jenis satwa khas lahan basah lainnya.

Baca juga: Ahli asal Jepang teliti konservasi bekantan di Pulau Curiak


 
Tim Universitas Lambung Mangkurat Kalimantan Selatan (ULM Kalsel) Dr. Amalia Rezeki (kanan) bersama Rob Brooksbank seorang guru Biologi di Bunburry Cathedral Grammar School Australia dan rekannya Roxanne Wilson berkesempatan mengunjungi Pulau Curiak. (ANTARA/Firman)


Pewarta: Firman
Editor : Taufik Ridwan

COPYRIGHT © ANTARA 2026