Kemudian, pengembangan riset biodiversitas hutan hujan tropis Meratus di Kahung dan Loksado, serta memperkuat program-program edukasi tentang nilai ilmiah Geopark Meratus.
Fajar menekankan upaya tersebut semakin memperkuat posisi Geopark Meratus tidak hanya sebagai destinasi wisata alam, tetapi juga menjadi kawasan pendidikan dan konservasi yang memiliki dampak luas terhadap pembangunan daerah yang berkelanjutan.
Dia juga menegaskan pentingnya peran serta masyarakat, terutama generasi muda dan akademisi untuk menjaga kelestarian kawasan Geopark Meratus karena menjadi salah satu kunci keberhasilan pengelolaan Geopark Meratus.
Salah satu program yang digulirkan Pemprov Kalsel untuk melibatkan generasi muda melalui Geopark Goes to School dan Edutalk yang menyasar sekolah dan perguruan tinggi.
"Banyak siswa dan mahasiswa yang sudah melakukan studi dan riset di kawasan Meratus,” tutur Fajar.
Pada tingkat tapak, lanjutnya, pengelolaan situs geopark juga melibatkan site manager dan masyarakat yang bermukim di kawasan tersebut karena memiliki peran penting sebagai penjaga warisan alam dan budaya yang dimiliki Banua.
Selain itu, Pemprov Kalsel juga membentuk Meratus Geopark Youth Forum sebagai wadah bagi generasi muda untuk berdiskusi, berkolaborasi, dan berpartisipasi aktif pada berbagai program pembangunan berkelanjutan, mitigasi bencana, hingga perlindungan lingkungan.
Sehingga, masyarakat lebih sadar terhadap isu penting seperti keberlanjutan, pelestarian warisan geologi, budaya, hayati dan lingkungan.
UNESCO menobatkan Geopark Meratus Kalsel menjadi UGGp pada Sidang Dewan Eksekutif UNESCO ke-221 di Paris, Prancis, 2–17 April 2025.
Berdasarkan catatan Badan Pengelola Geopark Meratus (BPGM) Kalsel, Geopark Meratus memiliki 54 situs terbagi pada empat rute, yakni Barat, Utara, Timur dan Selatan.
Baca juga: Gubernur Kalsel Terima Sertifikat UNESCO Global Geopark Meratus dari UNESCO
Pewarta: Tumpal Andani AritonangEditor : Taufik Ridwan
COPYRIGHT © ANTARA 2026