Sedangkan, beberapa karya inovatif yang menarik perhatian, antara lain Vuklang berupa vas bunga berbahan kayu yang dipersonalisasi menggunakan teknologi laser (PKM-K), ABCD Stunting sebagai media edukasi berbasis Behavior Centered Design dengan format visual-auditorykinestetik untuk percepatan penurunan stunting (PKM-RSH).

Kemudian, English Course Gumbira sebagai program kursus bahasa Inggris anak-anak berbasis komunitas di Banjarmasin (P2MW), SINTAS dengan memanfaatkan tanaman lokal untuk menekan kasus stunting dan hipertensi (MBKM), USV Garbage Collector berupa desain kapal tanpa awak berbasis IoT dan computer vision untuk mengatasi sampah permukaan sungai (PKM-KC).

Tak hanya menampilkan karya, pameran ini juga diisi dengan sesi penilaian inovasi dari para dosen pembimbing dan mitra eksternal, sebagai bagian dari proses pembinaan, serta apresiasi terhadap mahasiswa.

Sementara itu, Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah XI Kalimantan Muhammad Akbar menekankan penting pembinaan berkelanjutan agar inovasi mahasiswa tidak berhenti pada pameran.

"Kami dorong karya ini masuk ke hilirisasi menjadi produk, layanan, atau kebijakan yang hidup di tengah masyarakat,” ungkap Akbar.

Diketahui, Festival Kampus Berdampak merupakan platform kolaborasi yang diselenggarakan serentak pada sembilan perguruan tinggi negeri dan swasta dari Sabang sampai Merauke, untuk mengkampanyekan bahwa setiap kampus bisa dan harus berdampak tak peduli letak geografis atau skala institusi.

Melalui semangat Partisipasi Semesta Wujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua, UNISM menunjukkan kampus bukan menara gading, melainkan ekosistem hidup yang bergerak bersama masyarakat dalam menjawab tantangan sosial dan lingkungan.

Baca juga: LLDIKTI XI: pentingnya cek kebenaran data mahasiswa pada PD DIKTI

Pewarta: Tim Redaksi
Editor : Taufik Ridwan

COPYRIGHT © ANTARA 2026