Perajin anyaman purun disejumlah desa di Kecamatan Kelumpang Selatan, Kelumpang Hilir dan kecamatan lain di Kotabaru, Kalimantan Selatan kesulitan memasarkan hasil kerajinan tangan yang dilakukan kaum hawa daerah itu.

Kepala Desa Pembelacanan, Kelumpang Selatan Arianto, Minggu, mengungkapkan, keluhan para perajin anyaman purun di desa adalah pasar.

"Pasar yang ada saat ini hanya pasar-pasar tradisional, sehingga harga jual hasil kerajinan juga cukup rendah, dan permintaan relatif kecil," katanya menjelaskan.

Akibat dari harga rendah tersebut membuat para perajin anyaman purun merasa malas untuk meningkatkan produksi kerajinannya.

Para perajin berharap adanya pasar khusus yang menampung hasil kerajinan tangan warga Kotabaru, seperti di daerah lain di Pulau Jawa.

"Dengan pasar khusus hasil kerajinan, tentunya berpengaruh pada harga dan permintaan relatif stabil," ujarnya.

Ari menjelaskan, kerajinan purun adalah anyaman yang bahan bakunya berasal dari rumput purun yang banyak ditemui di rawa-rawa.

Selain masalah pasar, masalah yang dihadapi para perajin adalah membludaknya produk rumah tangga dari bahan plastik dan sintetis, serta menyempitnya lahan untuk budidaya rumput purun, karena perluasan areal pertanian dan perkebunan kelapa sawit serta karet.

Lebih dari satu dasa warsa, ratusan hektar rawa yang dulu ditumbuhi purun dan semak belukar, kini berubah menjadi hamparan tanaman kelapa sawit dan lahan pertanian padi.

Sementara purun kini hanya dapat dijumpai di tanah kosong di sekitar lahan pekaranan warga.

Menurut seorang pedagang pengumpul, Utuh, lambat laun hasil kerajinan tangan para istri nelayan yang berupa tas, tikar, topi, tempat dan tutup nasi, serta barang rumah tangga yang lainnya itu terus berkurang produksinya.

Padahal, membuat anyaman purun merupakan mata pencarian para ibu rumah tangga, yakni para istri nelayan untuk membantu suami yang tidak lagi melaut akibat gelombang besar dan tidak memiliki modal usaha.

Satu-satunya usaha yang dapat dilakukan para istri nelayan tersebut agar dapat membantu untuk menghasilkan uang guna membeli beras dan keperluan sekolah anak-anak mereka adalah membuat anyaman purun.

Beberapa perajin purun mengatakan, penjualan hasil anyaman akhir-akhir ini terus menurun drastis. Mereka menduga merosotnya penjualan akibat imbas membludaknya produk berbahan plastik, kain dan sintetis yang dijual dengan harga murah.

Kondisi ini diperparah lagi akibat sulitnya bahan baku rumput purun, akibat pembukaan rawa yang dijadikan lahan persawahan untuk tanaman padi, dan perluasan perkebunan karet dan kelapa sawit, sehingga harga purun semakin mahal.

Kepala Desa Pembelacanan mengungkapkan, pihaknya pernah mengirimkan tiga orang perwakilan para perajin ke Tasik Malaya, untuk belajar membuat anyaman purun dikombinasikan dengan benang.

"Selain berlatih, mereka juga diberi modal usaha berupa mesin penumbuk purun untuk merapikan purun sebelum dianyam," katanya.

Namun kenyataanya, kini mesin-mesin tersebut nganggur tidak dimanfaatkan karena masalah tersebut.(C/A)


Editor : Abdul Hakim Muhiddin

COPYRIGHT © ANTARA 2026