"Petani di daerah pertanian pasang surut tersebut mengharapkan ketersediaan pupuk pada saat mereka membutuhkan, bukan sebaliknya," ujar wakil rakyat asal daerah pemilihan Kalsel III/Kabupaten Batola itu di Banjarmasin, Selasa usai melaksanakan reses.
Dalam reses, 27 - 31 Oktober lalu itu, mantan aktivis mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat (ULM d/h Unlam) Banjarmasin tersebut mengunjungi lima desa di "Bumi Salidah" Batola yaitu Desa Karang Indah, Puntik Dalam, Jejangkit Muara, Jejangkit Pasar, dan Desa Karang Bunga.
Selain berkebun jeruk, kelima desa yang menjadi sasaran reses Akang (panggilan akrab terhadap Karlie oleh lawannya sesama aktivis kampus) itu juga mengandalkan pertanian padi sebagai mata pencarian utama warga masyarakat setempat.
“Masyarakt di lima desa yang saya kunjungi mengandalkan pertanian padi lokal dan padi unggul sebagai mata pencaharian, sehingga wajar mereka mengharapkan ketersediaan pupuk yang dan tepat waktu tanam," ujar laki-laki kelahiran 1952 berbintang Virgo tersebut.
"Artinya saat petani memerlukan atau pada musim tanam pupuk bersubsidi tidak tersedia. Justru ketika tidak begitu perlu seperti waktu panen pupuk tersedia,” kutip laki-laki kelahiran 1952 berbintang Virgo tersebut.
Untuk masalah pupuk tersebut, wakil rakyat yang cukup akrab dengan awak media massa itu, juga akan mencarikan solusi dengan mempertanyakan proses distribusinya ke instansi yang berwenang baik di tingkat provinsi maupun kecamatan
Hasil pertanian padi, mencukupi untuk kebutuhan pangan sehari-hari warga masyarakat "Bumi Salidah" Batola (kata Salidah sebuah filosofi kebersamaan, karena penduduknya majemuk) tersebut dan selebihnya mereka jual.
"Tetapi untuk pertanian padi, masyarakat setempat mengharapkan distribusi pupuk tepat waktu. Sebab petani mengeluhkan distribusi sering tidak tetap waktu," ungkapnya mengutip keluhan petani padi Batola tersebut.
"Artinya saat petani memerlukan atau musim tanam pupuk bersubsidi tidak tersedia. Justru ketika tidak begitu perlu seperti waktu panen justru pupuk tersedia,” kutip Karlie yang juga Ketua Fraksi Partai Golkar DPRD Kalsel.
Untuk masalah pupuk tersebut, wakil rakyat yang cukup akrab dengan awak media massa itu, juga akan mencarikan solusi dengan mempertanyakan proses distribusinya ke instansi yang berwenang baik di tingkat provinsi maupun kecamatan.
"Kita berharap dengan ketersediaan pupuk yang cukup serta tepat waktu pertanian Batola semakin maju dan produksi lebih meningkat lagi sehingga bukan cuma untuk kebutuhan sendiri, tetapi menjadi penyangga ketahanan pangan daerah Kalsel dan nasional," demikian Akang.
Selain Kabupaten Banjar, Batola pun sebagi lumbung padi Kalsel yang kini berpenduduk lebih empat juta jiwa tersebar pada 13 kabupaten/kota.
Batola sendiri yang menggunakan motto daerah Salidah dan berbatasan Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah (Kalteng) tersebut juga pemekaran dari Kabupaten Banjar, Kalsel Tahun 1960-an.
Salidah sebuah filosofis kebersamaan dan membangun daerah dan masyarakatnya yang majemuk, karena sebagai daerah penerima program transmigrasi, sehingga penduduknya bukan saja komunitas Bakumpai yang merupakan urang asli Banua dan banyak bermukim di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Sungai Barito yang hulunya berada di wilayah Kalteng.
Pewarta: Syamsuddin HasanEditor : Imam Hanafi
COPYRIGHT © ANTARA 2026