Mantan Gubernur Kalimantan Selatan, H.M Said mengharapkan, munculnya Idham Chalid baru dari provinsinya.

Harapan mantan gubernur Kalimantan Selatan (Kalsel) dua periode itu seiring meninggal dunia KH. Idham Chalid, seorang tokoh nasional asal Kalsel, Minggu.

"Dengan meninggal dunia Bapak Idham Chalid kita merasakan kehilangan seorang tokoh. Namun karena Allah SWT menghendaki mari kita ikhlaskan beliau kembali kehadiratNYA," ucapnya menjawab ANTARA Kalsel.

Mantan anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) asal Kalsel itu mengatakan, ketokohan almarhum bukan cuma bagi orang Banjar Kalsel tapi juga secara nasional.

Oleh karena itu, hendaknya ada orang Banjar Kalsel yang mengikuti jejak langkah almarhum hingga bisa menasional, demikian M. Said.

Dari sejumlah putra-putri KH Idham Khalid dua diantaranya kini bisa dikatakan meniti karir sang bapak yakni Saiful Hadi Khalid yang kini menjabat Direktur Pemberitaan Peruma LKBN ANTARA dan pengurus PB NU sertw Aunul Hadi Khalid sebagau Bupati Hulu Sungai Utara (tanah kelahirannya).

Pendapat senada dikemukakan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kalsel, H. Akhmad Makkie seraya menambahkan, ketokohan almarhum antara lain saat memimpin Nahdatul Ulama (NU) baik sebagai jamiah maupun sewaktu menjadi partai politik (parpol).

"Karenanya almarhum memimpin NU sampai 32 tahun suatu kepemimpin NU terlama," ungkap anggota DPD-RI 2005- 2009 dan mantan Bupati Tapin, Kalsel dua periode itu.

Oleh sebab itu, baik masa Presiden Soekarno maupun Soeharto, almarhum Idham Chalid mendapat perhatian dan mendapat kepercayaan diantaranya pernah menjadi Wakil Perdana Menteri (Waperdam), Menteri Utama Bidang Kesra dan Ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA), demikian Makkie.

Sementara mantan Rektor Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin, Prof H.M Kustan Basr menyatakan, salut dengan kepiawaian almarhum sebagai tokoh agama maupun politik.

"Dengan kepiawaian almarhum semasa masih aktif dibidang agama dan politik umat Islam di Indonesia selamat dari cengkaraman komunis atau Partai Komunis Indonesia (PKI)," tuturnya.

Sedangkan H. Rusdiansyah Asnawi, mantan Ketua Pengadilan Tinggai Agama (PTA) Kalsel, Kalimantan Tengah dan dan Sulawesi Utara mengaku banyak mendapat bimbingan dari almarhum Idham Chalid.

"Dari sejumlah petuah almarhum yang cukup terkesan bagi saya antara lain ketika harus memilih apakah berkarir di pegawai negeri atau bidang politik. Ketika itu, almarhum menyuruh saya berkarir di pengawai negeri," lanjut mantan Ketua Pengurus Wilayah NU Kalsel itu.

Oleh karena itu dia memilih menjadi pegawai negeri sampai pensiun dan baru beberapa tahun terakhir ikut berkecimpung di parpol sebagai upaya menyambung silaturrahim, demikian Rusdiansyah.


: Abdul Hakim Muhiddin

COPYRIGHT © ANTARA 2026