Banjarmasin, (Antaranews Kalsel) - Tabrakan sesama sepeda motor di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Jumat, menelan satu korban tewas dan tiga orang lainnya dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ulin.
Kasat Lantas Polresta Banjarmasin melalui Kanit Laka Lantas Ipda Eska P, di Banjarmasin Jumat, mengatakan, korban pengendara motor Honda Beat, M Alwi, mengalami luka berat di kepala hingga tewas di tempat kejadian perkara (TKP).
"Dia membonceng temannya bernama Fahrurrazi (17) warga Grilya yang juga mengalami luka, namun tidak begitu parah," katanya.
Sedangkan "musuh" tabrakannya juga berboncengan dengan kendaraan Yamaha Vega, pengendara bernama Rahmat Noor (14) warga Pemurus Dalam dekat Mesjid Kuning, dan saat ini masih dalam keadaan kritis di RSUD Ulin.
Sementara yang dibonceng bernama Syaifuddin (17) warga Tatah Balayung Baru Rt 5 Rw 1, mengalami luma ringan.
Kecelakan maut dua sepeda motor yang ditunggangi para ABG berkupiah itu terjadi pada Kamis malam di Jalan Gerilya depan Komplek H Suriadi, diduga mereka baru pulang dari menghadiri pengajian.
"Saat kecelakaan itu mereka berpakaian baju koko dan kupiah, sepertinya baru datang dari pengajian," ungkap Eska.
Menurut dia, takbarakan terjadi terjadi dari arah berlawanan sehingga kerusakan parah terjadi dibagian depan, artinya pengendara Alwi dengan Honda Beatnya datang dari arah Grilya menuju Pemurus, sedangkan Rahmat Noor dengan Yamaha Veganya datang dari arah Pemurus Ke Grilya.
"Mungkin kedua pengendara sama-sama kencang, sehingga terjadilah tabrakan yang berujung maut itu," katanya.
Saat ini, kata Eska, polisi belum bisa menyimpulkan siapa salah dan benar, karena satu pengendara masih tidak bisa dimintai keterangannya.
"Peristiwa ini masih dalam proses penyelidikan, sehingga belum bisa dipastikan siapa salah," katanya.
Hanya saja, kata Eska, sangat disayangkan, para orangtua yang mengijinkan anaknya yang masih belum cukup umur berkendaraan hingga terjadi kecelakaan seperti ini.
"Ini harus menjadi peringatan dan pelajaran bagi seluruh orangtua lainnya, jangan biarkan anak-anak mengendarai sepeda motor sebelum mereka mendapatkan SIM, karena bisa membahayakan dirinya sendiri," katanya.
Polisi, kata dia, tidak mungkin bisa melakukan pengawasan secara terus menerus dan menyeluruh, sehingga peran orangtua sangat penting untuk membantu tugas aparat dalam mengawasi para remaja tersebut.
"Kita sudah setiap pagi gelar razia motor untuk pelajar ini, tapi ya itu ada yang senang adapula yang tidak, bahkan ada orangtua yang sampai ngomelin petugas kita," katanya.
