"Nilai ekspor terbesar masih didominasi hasil tambang batu bara," kata Kepala Dinas Perdagangan, Penanaman Modal, dan Pengelolaan Pasar Kotabaru, Joni Anwar MAP, Jumat.
Volume ekspor batu bara selama periode itu mencapai 19,19 juta metrik ton dengan nilai ekspor mencapai 1 miliar Dollar AS.
Khusus ekspor batu bara, lanjut Joni, dilakukan oleh beberapa perusahaan tambang yang mengantongi izin perjanjian karya pengusahaan pertambangan batu bara (PKP2B), diantaranya, PT Arutminn Indonesia dan PT Bahari Cakrawala Sebuku.
Peringkat kedua andalan 'Bumi Saijaan" hasil tambang bijih besi dengan volume ekspor sebesar 1,9 juta metrik ton dengan nilai ekspor mencapai 30,35 juta Dollar AS.
"Sedangkan untuk pengekspor bijih besi masih dilakukan oleh satu-satunya perusahaan tambang bijih besi PT Sebuku Iron Lateritic Ores (SILO) dengan tujuan ekspor China," ujarnya.
Ekspor semen curah/clinker 206 ribu ton dengan nilai ekspor sebesar 5,7 juta Dollar AS.
Perusahaan pengekspor semen curah masih dilakukan oleh PT Indocement Tunggal Prakarsa (ITP) Tbk Tarjun.
"Selain hasil tambang, Kotabaru juga memiliki komoditas unggulan ekspor dari hasil perkebunan kelapa sawit, seperti minyak sawit mentah," terang Joni.
Untuk ekspor komoditas minyak sawit mentah/crude palm oil (CPO) pada Januari-Mei 2010 mencapai 102 ribu ton dengan nilai ekspor sebesar 41,8 juta Dollar AS.
Sebelumnya, Kepala Dinas Perkebunan Kotabaru H. Safrin Masrin, mengatakan, Kotabaru beberapa tahun terakhir terus melakukan perluasan perkebunan kelapa sawit.
Perluasan tersebut dilakukan oleh investor swasta murni dan sebagian melibatkan masyarakat dengan pola plasma.
Namun sebagian juga swadaya masyarakat, dan pemerintah daerah juga melibatkan diri dengan memberikan bantuan saprotan yang terdiri atas pengadaan bibit dan insektisida dan pupuk.
Editor : Abdul Hakim Muhiddin
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.