Kotabaru, Kalsel (ANTARA) - PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (Indocement) mencatat volume penjualan domestik (semen dan klinker) sebesar 8.654 ribu ton atau turun -2,4%, sementara volume ekspor meningkat +45,8% menjadi 237 ribu ton.
Corporate Secretary Dani Handajani melalui siaran pers dilaporkan Selasa, mengatakan, pangsa pasar domestik secara keseluruhan tetap stabil pada angka 29,5% pada Kuartal II 2025.
Baca juga: Usia 50 tahun Indocement tetap berkontribusi untuk negeri
Menurut Asosiasi Semen Indonesia (ASI), pasar semen domestik mengalami penurunan sebesar -3,1% pada paruh pertama tahun 2025.
Penurunan ini terutama disebabkan oleh kontraksi -10,2% di pasar semen curah, akibat penurunan permintaan dari proyek Ibu Kota Negara baru Nusantara dan pemangkasan anggaran infrastruktur yang diumumkan
awal tahun ini.
Sementara itu, pasar semen kantong tetap stagnan karena daya beli masyarakat yang masih lemah.
Indocement atau Perseroan mencatat total volume penjualan (semen dan klinker) sebesar 8.891 ribu ton pada Semester I 2025, turun 140 ribu ton atau 1,6% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Pendapatan Neto Perseroan tercatat sebesar Rp8.032,8 miliar, turun -1,1%, sejalan dengan penurunan volume penjualan.
Beban Pokok Pendapatan juga menurun -2,3% menjadi Rp5.690,9 miliar, menghasilkan margin Laba Bruto sebesar 29,2%, lebih tinggi dibandingkan 28,3% pada periode yang sama tahun lalu.
Beban Usaha turun -1,8% menjadi Rp1.704,5 miliar, sementara dan Beban Operasi Lain – Neto turun -382,9% menjadi -Rp35,1 miliar akibat kerugian kurs dibandingkan keuntungan kurs pada 2024.
Hal ini menghasilkan margin Laba Usaha sebesar 7,5% dan EBITDA sebesar 16,8% pada Semester I 2025.
Baca juga: Indocement dispenses IDR868 billion dividend
Pendapatan Keuangan – Neto meningkat +112,6% menjadi Rp5,7 miliar, berasal dari bunga atas saldo
kas yang lebih besar.
Beban Pajak Penghasilan – Neto naik +12,6% menjadi Rp122,1 miliar seiring peningkatan laba.
Laba Periode Berjalan tercatat sebesar Rp494,8 miliar atau naik +13,8%.
Neraca Keuangan yang Kuat Indocement mencatat posisi kas bersih dengan Kas dan Setara Kas sebesar Rp3,4 triliun per 30 Juni 2025.
Corporate Finance Manager David Halim, menambahkan, meski demikian perseroan tetap waspada dan bijak di tengah ketidakpastian.
Meskipun permintaan semen domestik menurun pada paruh pertama tahun ini, kami memperkirakan volume akan meningkat pada paruh kedua tahun ini, didorong oleh cuaca yang lebih kering, hari libur yang lebih sedikit, dan peningkatan belanja konstruksi menjelang akhir tahun.
Secara keseluruhan, kami merevisi proyeksi menjadi volume semen domestik yang stagnan untuk tahun 2025.
Kami terus memantau tren pasar dengan fokus kuat pada efisiensi biaya dan peningkatan penggunaan bahan bakar alternatif (AF).
Salah satu proyek utama fasilitas bahan bakar alternatif sedang berlangsung di Kompleks Pabrik Grobogan dimana bisa menambah kapasitas pengumpan biomassa dari 10 ton per hour (tph) menjadi 40 tph dengan target beroperasi penuh pada kuartal IV tahun 2025.
Sementara itu, Indocement adalah salah satu produsen semen terbesar di Indonesia yang memproduksi Semen Tiga Roda, Semen Rajawali, Mortar Tiga Roda, dan Semen Grobogan.
Saat ini Indocement dan entitas anaknya bergerak dalam beberapa bidang usaha yang meliputi pabrikasi dan penjualan semen (sebagai usaha inti) dan beton siap-pakai, serta tambang agregat dan trass, dengan jumlah karyawan sekitar 3.700 orang.
Indocement mengoperasikan 14 pabrik milik sendiri serta dua pabrik dan satu grinding mill dengan sistem sewa dengan total kapasitas produksi tahunan sebesar 33,5 juta ton semen.
Sepuluh pabrik berlokasi di Kompleks Pabrik Citeureup, Bogor, Jawa Barat; dua pabrik di Kompleks Pabrik Cirebon, Cirebon, Jawa Barat; dan satu pabrik di Kompleks Pabrik Tarjun, Kotabaru, Kalimantan Selatan; satu pabrik di Grobogan, Jawa Tengah; dua pabrik di Maros, Sulawesi Selatan, dan satu grinding mill di Banyuwangi, Jawa Timur.
Pada 2022, Indocement telah mengoperasikan Pabrik Maros setelah menandatangani Perjanjian Sewa Pakai Aset dengan PT Semen Bosowa Maros dan PT Bosowa Corporindo. Heidelberg Materials AG telah menjadi pemegang saham mayoritas Indocement sejak 2001.
