Banjarmasin (ANTARA) - Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Kemenkeu mencatat neraca perdagangan internasional di Kalimantan Selatan mengalami surplus sekitar Rp19,15 triliun hingga Juni 2026, meningkat 57,90 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yang ditopang kenaikan ekspor batu bara.
Kepala Kanwil DJPb Kalsel Catur Ariyanto Widodo di Banjarmasin, Kamis, mengatakan penguatan surplus neraca perdagangan menjadi salah satu penopang utama ketahanan ekonomi Kalimantan Selatan di tengah dinamika ekonomi global dan nasional, sekaligus mencerminkan tetap kuatnya kinerja ekspor daerah.
"Peningkatan surplus tersebut terutama berasal dari kenaikan ekspor batu bara yang masih menjadi komoditas utama Kalimantan Selatan untuk memenuhi permintaan pasar internasional. Kinerja perdagangan luar negeri yang terus menguat itu memperkokoh fondasi perekonomian daerah sepanjang Semester I 2026,” ujarnya.
Sejalan dengan kinerja perdagangan luar negeri membaik, perekonomian Kalimantan Selatan juga mampu tumbuh di atas rata-rata nasional.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Kalimantan Selatan pada Triwulan I 2026 tumbuh 5,67 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,61 persen.
“Pertumbuhan tersebut ditopang sektor pertambangan yang berkontribusi 27,12 persen terhadap perekonomian daerah. Sementara itu, konsumsi rumah tangga tetap menjadi penggerak utama ekonomi dengan kontribusi 45,05 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), sehingga menjaga daya tahan aktivitas ekonomi domestik,” katanya.
Di sisi lain, inflasi Kalimantan Selatan mulai menunjukkan tren yang lebih terkendali meskipun masih berada di atas rata-rata nasional. Pada Juni 2026, inflasi tahunan tercatat 4,47 persen, lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional sebesar 3,34 persen, sedangkan inflasi bulanan mencapai 0,48 persen.
Catur menyebut inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Tanah Laut sebesar 5,27 persen, sedangkan inflasi terendah berada di Kabupaten Kotabaru sebesar 3,74 persen. Komoditas yang paling mempengaruhi inflasi meliputi emas perhiasan, beras, minyak goreng, daging ayam ras, tarif bensin, dan sigaret kretek mesin.
Menjaga stabilitas harga sekaligus mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kalsel terus memperkuat koordinasi melalui operasi pasar, dukungan distribusi pangan, serta berbagai langkah pengendalian harga kebutuhan pokok.
“Upaya TPID itu diharapkan mampu menjaga daya beli masyarakat dan memperkuat ketahanan ekonomi Kalimantan Selatan hingga akhir 2026,” ujar Catur.
Pewarta: Tumpal Andani AritonangEditor : Ulul Maskuriah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.