"Kami tidak mampu lagi mengantisipasi serangan hama, karena sejak padi itu mulai keluar (mbrobot), tikus sudah langsung menyerang dan memotong-motong batang padi," kata Abdul Rahim, petani di Kelumpang Selatan, Selasa (8/3).
Dijelaskan, lengkap sudah serangan hama padi pada musim tanam kali ini, di bagian atas padi diserang burung pipit, sementara di bagian bawah batang padi dibabat oleh hewan pengerat atau tikus.
Terlebih dalam kondisi curah hujan tinggi ini, hama tikus semakin merajalela menyerang tanaman padi di persawahan, ujarnya.
Rohim mengaku pernah beberapa kali mencoba memberikan racun tikus, diantaranya, dengan menggunakan media yuyu (kepiting sawah) yang dipanggang kemudian diisi racun temik, dan memberi umpan klerat yang disebar di jalur-jalur yang sering dilalui tikus.
Namun usaha tersebut sepertinya sia-sia belaka, karena hama tikus yang, menyerang tanaman padi jauh lebih besar daripada racun dan klerat yang dipasang para petani di daerah itu.
Hama tikus tersebut, menyerang tanaman padi pada malam hari, tetapi pada siang hari tanaman padi itu diserbu ribuan ekor burung pipit.
"Jika serangan burung masih bisa dihalau, tetapi untuk hama tikus tidak dapat cukup dihalau atau diberi racun semata.
Akibat serangan hama tikus itu, patani asal Jawa Timur yang menanam padi sekitar tujuh hektare tersebut hanya memperoleh padi sekitar tiga kwintal.
"Idealnya menanam padi seluas tujuh hektar itu mendapatkan gabah kering sekitar 35 ton," tandasnya.
Ia mengaku telah beberapa musim tanam menggunakan benih unggul, seperti Cisadane, Cihearang, dan Cibodas, namun hasilnya tidak pernah maksimal, karena hama tikus tersebut.
Hal yang sama juga dialami oleh Dasim, tanaman padi milik petani asal Lamongan yang luasnya sekitar tiga hektar itu juga diserang hama tikus.
Selain Rahim dan Dasim, masih banyak petani di daerah lain di Kotabaru juga mengalaami gagal panen.
Menurut mereka, pemberantasan hama tikus tidak dapat dilakukan secara individu oleh petani yang serba dalam keterbatasan itu, tetapi harus dilakukan secara bersama-sama dan dibantu Pemkab Kotabaru dalam hal ini Dinas Pertanian.
Kepala Dinas Pertanian Kotabaru H Zuhairil Anwar, hingga saat ini belum berhasil dikonfirmasi terkait gagal panen yang dialami oleh warga Kelumpang Selatan.
Sebelumnya, Zuhairil mengatakan, pada musim tanam 2011 mentargetkan produksi gabah kering panen sebesar 112 ribu ton, naik sekitar 5 persen dari target 2010.
"Musim tanam 2010 target produksi gabah kita sekitar 105,28 ribu ton, sedangkan tahun ini ditarget naik sekitar 5 persen atau sekitar 112 ribu ton gabah kering panen," katanya.
Sedangkan realisasi produksi gabah kering panen (GKP) 2010 sekitar 93 ribu ton dari luas tanam sekitar 26.600 hektar.
Target tersebut minus sekitar 6 ribu-7 ribu ton, karena curah hujan tinggi.
Kegagalan produksi tahun 2010, kata Zuhairil, menjadi pelajaran untuk musim tanam 2011./C
Editor : Imam Hanafi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.