Oleh Syamsuddin Hasan

Banjarmasin, (Antaranews Kalsel) - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) mengungkapkan Kota Banjarmasin selama September 2013 mengalami deflasi sebesar 0,60 persen.


"Deflasi di Banjarmasin terjadi karena adanya penurunan harga yang ditunjukkan oleh turunnya indeks pada kelompok bahan makanan 3,64 persen," ungkap Kepala BPS Kalsel Dian Pramono Effendy di Banjarmasin, Selasa.

Selain itu, kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan 0,55 persen. Sementara kelompok makanan jadi naik 0,56 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar naik sebesar 1,19 persen.

Kelompok lain yang mengalai kenaikan, yaitu kelompok sandang 2,20 persen, kelompok kesehatan naik 0,11 persen, serta kelompok pendidikan, rekreasi dan olah raga 0,21 persen.

Ia mengungkapkan, sepuluh komoditas utama yang mendorong terjadinya deflasi pada September 2013 di ibu kota Kalsel tersebut, yaitu dengan andil terbesar bawang merah -0,4386, ikan gabus -0,2499, dan angkutan udara -0,0988.

Kemudian andil terendah dalam mendorong deflasi di "kota seribu sungai" Banjarmasin itu, telur ayam ras -0,0270, cumi-cumi -0,0280 dan udang basah -0,0310.

Sedangkan sepuluh komoditas utama yang menahan terjadinya deflasi di kota seribu sungai Banjarmasin pada September 2013, yaitu dengan andil terbesar bahan bakar rumah tangga 0,2193, emas perhiasan 0,1494 dan sop 0,0538.

Selain itu, andil terendah dalam menahan fedlasi tersebut, yaitu daging sapi 0,0157, ikan sepat siam 0,0165 dan sekolah dasar (SD swasta) 0,0165, ungkapnya dalam jumpa pers di Kantor BPS Kalsel, Jalan KS Tubun Banjarmasin.

Menurut komponennya, barang-barang yang harganya dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah (administered goods inflation) secara umum mengalami inflasi sebesar 1,30 persen.

Kemudian harga yang bergejolak (volatile goods inflation) secara umum mengalami inflasi sebesar 5,32 persen, dan komponen inti (core inflation) mengalami inflasi sebesar 0,35 persen.

Dari 66 kota di Indonesia, tercatat mengalami inflasi 53 kota dan deflasi 13 kota. Sementara deflasi tertinggi di Kota Sorong, Papua Barat 4,28 persen dan terendah di Kota Surabaya, Jawa Timur 0,02 persen.

  Sedangkan Agustus lalu inflasi tertinggi juga terjadi juga di Kota Sorong, Papua Barat 6,47 persen dan terendah di Kota Pangkal Pinang, Bangka Belitung sebesar 0,15 persen.   


Editor : Asmuni Kadri

COPYRIGHT © ANTARA 2026