Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) H Karlie Hanafi Kalianda berpendapat, empat pilar kebangsaan bisa menjadi wahana untuk mewujudkan Negara Indonesia adil makmur, sejahtera dan bermartabat.

Pendapat wakil rakyat itu disampaikan saat sosialisasi Revitalisasi dan Aktualisasi Nilai-Nilai Pancasila di Desa Semangat Dalam (sekitar 15 kilometer barat Banjarmasin) Kecamatan Alalak Kabupaten Barito Kuala (Batola), Senin.

Karlie menyebutkan, empat pilar kebangsaan itu terdiri dari Pancasila, Undang Undang Dasar (UUD) Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Bhinneka Tunggal Ika.

Menurut dia, empat pilar kebangsaan merupakan tiang penyangga yang kokoh, berperan agar rakyat Indonesia merasa nyaman, aman, tenteram dan sejahtera serta terhindar dari berbagai macam gangguan dan bencana.

"Empat pilar kebangsaan suatu hal yang tak bisa ditawar untuk mewujudkan Negara Indonesia yang adil dan makmur, sejahtera serta bermartabat," tegas Karlie yang juga Ketua Fraksi Partai Golkar DPRD Kalsel.
 
Anggota DPRD Kalsel, H.Karlie Hanafi Kalianda menyerahkan cendera mata berupa lambang negara Burung Garuda yang diterima Kepala Desa Semangat Dalam Kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala, Senin (29/1/24). (ANTARA/HO-Dokumen Pribadi)
 

Sementara itu, Politisi H.Puar Junaidi sebagai narasumber membeberkan, bahwa Pancasila merupakan ideologi dan dasar negara yang memiliki fungsi sangat fundamental dan juga  sebagai sumber dari segala sumber hukum.

Politisi senior Partai Golkar dan juga pernah sebagai anggota DPRD Kalsel menyebutkan, bahwa nilai-nilai luhur Pancasila tertuang dalam norma-norma yang terdapat dalam Pembukaan dan batang tubuh UUD 1945.

“Norma konstitusional UUD 1945 menjadi acuan dalam pembangunan karakter bangsa,” tegas mantan aktivis Mahasiswa Pancasila (Mapancas) tersebut.

Ia menambahkan, dalam pembangunan karakter bangsa membutuhkan komitmen terhadap NKRI.

"Yang dibangun pada manusia dan bangsa Indonesia adalah karakter yang memperkuat dan memperkokoh komitmen terhadap NKRI. Maka rasa cinta terhadap tanah air perlu dikembangkan dalam pembangunan karakter bangsa, melalui pengembangan sikap demokratis," tegasnya.

Selain itu, menjunjung tinggi hak azasi manusia serta persatuan dan kesatuan bangsa,” lanjut mantan Ketua Angkatan Muda Pembaruan Indonesia (AMPI) Kalsel tersebut.

Menurut dia, Bhineka Tunggal Ika bertujuan menghargai perbedaan atau keragaman namun tetap bersatu dalam ikatan sebagai bangsa Indonesia.

“Indonesia terdiri dari beragam suku, agama, ras dan antara golongan (sara). Keberagaman ini harus dipandang sebagai kekayaan khasanah sosial kultur, bersifat kodrati dan alamiah,” tambahnya.

"Keberagaman bukan untuk dipertentangkan apalagi diadu antara satu dengan yang lain sehingga berakibat terpecah belah. Oleh sebab itu Bhineka Tunggal Ika harus dapat menjadi penyemangat terwujudnya persatuan dan kesatuan bangsa,” demikian Puar Junaidi.

Usai paparan dilanjutkan tanya jawab, Kepala Desa Semangat Dalam Norman pada kesempatan itu mempertanyakan kenapa pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP) tidak diajarkan di sekolah.

"Padahal pelajaran PMP di dalamnya menyangkut ajaran tentang budi pekerti, akhlak, sopan satun berperilaku, dan sebagainya. Kami menginginkan ajaran PMP dikembalikan lagi, agar generasi kita ke depannya kembali dikenal sebagai generasi yang sopan satun, berbudaya dan ramah tamah,” ujar Norman.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Karlie mengatakan, hal itu sebagai masukan yang sangat positif dari masyarakat agar pelajaran PMP dikembalikan lagi.

“Masukan tersebut akan saya bahwa ke lembaga legislatif, bagaimana supaya ajaran tentang PMP dihidupkan lagi dan diajarkan lagi kepada generasi penerus,” demikian Karlie Hanafi.

Pewarta: Syamsuddin Hasan

Editor : Gunawan Wibisono


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Selatan 2024