Tidak ada yang tidak mungkin. Prinsip hidup itulah yang menjadi pelecut semangat wanita hebat ini dalam memotivasi dirinya sendiri setiap melangkah menggapai impian.

Di usia yang relatif muda, yakni 28 tahun, pemilik nama lengkap Dr Riinawati SP MPd ini sudah pernah merasakan menjadi seorang Dekan, memimpin sebuah fakultas di perguruan tinggi.

Jabatan Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Widya Gama Mahakam (UWGM) Samarinda periode 2014 sampai 2016, diraihnya berbekal pengalamannya dari nol mengabdi di fakultas pencetak tenaga guru itu.

Karir wanita yang akrab disapa Rina ini memang terbilang spesial sekaligus unik. Berawal nilai kelulusan tertinggi di SMA Kesatuan Samarinda tahun 2004, dia diajak bergabung sebagai staf di FKIP UWGM. Adalah pria bernama Supardi Hidayat selaku pengelola Program DIII UWGM yang berjasa mengajaknya kala itu. 

Rina pun mendapat tawaran beasiswa dari yayasan pengelola kampus dan kuliah di S1 Program Studi Agroteknologi di Fakultas Pertanian, setahun berikutnya.

"Awalnya pengen kuliah di FKIP. Namun karena kerja di FKIP jadi tidak boleh dan harus fakultas lain. Saya ambillah S1 di Pertanian. Baru saat dapat beasiswa lagi S2, ambil jurusan sesuai minat," tutur Rina, mengungkapkan awal mula cerita dia kuliah.
Nilai kelulusan sarjana yang mentereng, membuat Rina dipercaya menjabat Sekretaris Prodi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) tahun 2012 di FKIP UWGM.

Kemudian naik menjadi Ketua Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) periode 2012 sampai 2014. Di masa jabatan ketua prodi ini jua, dia berhasil menyelesaikan pendidikan Magister Manajemen Pendidikan di Universitas Mulawarman tahun 2013.

Titel S2 dengan bonus status  mahasiswi berprestasi, wanita kelahiran Banua Padang, Kabupaten Tapin 3 Mei 1986 ini akhirnya dipercaya memegang jabatan strategis sebagai Dekan FKIP UWGM. Sebuah posisi puncak di fakultas yang tak pernah dibayangkannya bisa diraih.

"Saya kuliah tidak pernah bayar, semuanya beasiswa. Orang yang paling berjasa Rektor UWGM H Ismet Barakbah dan Muhammadsjah Djafar dari Yayasan Pendidikan Mahakam (YPPM)," ungkap Rina, mengenang orang-orang yang berjasa padanya untuk bisa menempuh pendidikan hingga S3.
Tak hanya pimpinan di perguruan tinggi tempatnya mengabdi, ternyata sang adik, Ramadhani juga tak kalah berjasanya. Karena sang adiklah yang turut membantu biaya kuliah pada semester terakhir ketika menempuh Program Doktor Manajemen Pendidikan di Universitas Negeri Surabaya.

"Karena saya pindah ke Banjarmasin di akhir semester jadi ading yang membantu biayanya. Alhamdulilah bisa menyelesaikan pendidikan Doktor tahun 2017 dengan judul disertasi Manajemen Anggaran Pendidikan Perguruan Tinggi Swasta," kata ibu tiga anak ini.

Menurut Rina, tidak ada mimpi untuk bisa meraih gelar S3. Apalagi di usia terbilang cukup muda yaitu 30 tahun. Namun bagi dia, limpahan rezeki dari Allah SWT membuat jalan yang ditempuhnya seakan dimudahkan.

Apalagi jika melihat latar belakang keluarganya, tidak ada yang berpendidikan tinggi. Sang ayah H Ahmad Bardi, tidak pernah mengeyam pendidikan. Sedangkan ibunda, Hj Juraidah (alm) hanya sempat duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). 

Kehidupan Rina bersama dua saudaranya pun terbilang cukup berat. Sejak kelas 1 Sekolah Dasar, dia ditinggal sang ibu dan hanya bersama ayah. 

Masa kecilnya di SDN Negeri Teluk Dalam 3 Banjarmasin dan lulus tahun 1998. Kemudian SMPN 2 Banjarmasin lulus tahun 2001. Sempat sekolah kelas 1 di SMAN 2 Banjarmasin, Rina pindah ke Samarinda mengikuti sang ayah.

Kehidupan di Kalimantan Timur sebagai perantauan inilah yang jadi cobaan terberatnya. Dimana perekonomian keluarga "jatuh" dan hidup serba pas-pasan, bahkan kekurangan.

Untuk menambah penghasilan keluarga dan biaya sekolah, Rina membuka les belajar untuk anak-anak di sekitar rumahnya serta jadi guru mengaji.

"Ayah sakit stroke kala itu. Apapun saya kerjakan asal jadi uang untuk hidup. Alhamdulilah, rezeki dari Allah SWT berkat doa dan usaha yang tak kenal lelah," beber Rina, mengingat pahitnya kehidupan di kala susah.
Dia pun mengaku hanya mengalir saja menjalani kehidupan, termasuk pendidikan dan karir. Tidak ada sama sekali cita-cita untuk kuliah dan menempuh pendidikan setinggi sekarang. 

Namun jalan selalu terbuka untuknya. Seperti kuliah, beasiswa merupakan solusi untuk bisa jadi sarjana hingga meraih gelar Doktor, sebuah gelar akademik tertinggi dari perguruan tinggi.

Kini Rina mantap meniti karir di Banjarmasin, ibukota Banua tercinta Provinsi Kalimantan Selatan. Sembari sesekali pulang ke kampung halaman di Desa Banua Padang, Kecamatan Bungur, Kabupaten Tapin untuk ziarah ke makam almarhum ibunda dan para leluhur.

Pengabdiannya sekarang di Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari Banjarmasin, setelah lulus seleksi CPNS untuk dosen negeri pada tahun 2018 dan mulai bertugas 15 Maret 2019 dengan golongan IIIC dan pangkat lektor.

Sebelumnya Rina juga sempat menjadi dosen tetap di Universitas Achmad Yani Banjarmasin (UAY) dan ditunjuk sebagai Ketua Lembaga Peningkatan dan Pengembangan Aktivitas Instruksional (LP2AI). 

Dia juga jadi dosen tidak tetap di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Indonesia Banjarmasin dan Akademi Pariwisata Nasional (Akparnas) Banjarmasin.
Kini Rina mengejar mimpi menjadi seorang guru besar. Jenjang karir tertinggi di perguruan tinggi itu rasanya tak mustahil bisa diraihnya. Mengingat tinggal beberapa langkah lagi untuk menggapainya.

Apalagi sejumlah publikasi di jurnal internasional bereputasi sudah ditembusnya hingga sebutan sebagai seorang profesor muda layak disandangnya dalam kurun waktu yang tidak lama lagi.

Pewarta: Firman

Editor : Ulul Maskuriah


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Selatan 2019