Pakar: Keberadaan AI bukan akhir manusia, namun pendamping Manusia

Pakar: Keberadaan AI bukan akhir manusia, namun pendamping Manusia

Ilustrasi - Kecerdasan buatan. ANTARA/Pixabay/Geralt.

Jakarta (ANTARA) — Inovasi teknologi AI di bidang layanan teknologi informasi yang berkelanjutan dewasa ini dapat mempermudah pekerjaan teknisi dengan mengotomatiskan tugas-tugas yang berat dan kasar. Misalnya, AI dapat dimanfaatkan untuk mengurangi waktu dan upaya yang diperlukan untuk mengarahkan keluhan yang diterima atau menyetujui permintaan memberikan layanan tertentu.  
 
Namun, adanya peningkatan efisiensi dengan adanya teknologi AI ini berpotensi menjadi puncak gunung es. Selain itu perkembangan teknologi AI juga dapat membuka peluang baru bagi karyawan untuk menjadi lebih baik dan menunjang karier mereka. Melihat potensi yang bosa didapat dari manfaat penggunaan AI, Pemerintah Indonesia sedang mempelajari rencana strategis komprehensif yang bertujuan untuk menumbuhkan kolaborasi dan memungkinkan masyarakat Indonesia memanfaatkan potensi AI secara maksimal.
 
Hingga saat ini kekhawatiran mengenai keberadaan AI dan penggunaannya yang disebut-sebut akan mengambil alih beberapa pekerjaan manusia, mengakibatkan timbulnya ketakutan akan banyaknya pekerjaan yang hilang dan tidak lagi memerlukan manusia. Ketakutan ini tentunya sangat berdasar melihat semakin tingginya teknologi AI yang seolah dapat mengerjakan beberapa pekerjaan manusia.
 
Menurut Ramprakash Ramamoorthy, Direktur Riset ManageEngine, ketika AI mengambil alih berbagai fungsi yang tadinya hanya dapat dilakukan manusia, perusahaan juga akan mendefinisikan kembali keterampilan utama yang mereka harapkan saat ini dari karyawan maupun calon karyawan. Laporan tentang Masa Depan Pekerjaan yang diterbitkan oleh Forum Ekonomi Dunia juga mencerminkan kecenderungan ini, dimana AI dan mahadata menjadi keterampilan yang paling diprioritaskan nomor dua oleh 44 persen perusahaan di kawasan Asia Timur dan Pasifik.
 
“AI juga merupakan kunci untuk mendukung penciptaan lapangan kerja baru bagi banyak bisnis. Pekerjaan-pekerjaan baru ini juga membutuhkan karyawan baru yang lebih cakap secara digital dan menguasai penggunaan teknologi canggih. Secara khusus, Laporan LinkedIn bertajuk Jobs on the Rise tahun 2023 menemukan bahwa di Indonesia pekerjaan yang memerlukan keterampilan pembelajaran mesin (machine learning) merupakan salah satu karir dengan pertumbuhan tercepat di negara ini” Terang Ram.
 
AI juga dapat mengubah cara karyawan berinteraksi dengan pelanggannya. Secara khusus, AI dapat menyederhanakan proses serta memudahkan akses terhadap wawasan yang akurat dan pengetahuan perusahaan. Melalui fitur-fitur ini, perusahaan dapat memberikan pilihan yang sifatnya lebih personal, memecahkan masalah rumit secara langsung, dan menciptakan bentuk interaksi baru yang sebelumnya dianggap mustahil. Fitur-fitur ini memungkinkan perusahaan menjadi lebih manusiawi dalam berinteraksi dan terhubung dengan pelanggan pada tingkat yang lebih dalam dan pribadi.
 
Bagaimanapun AI masih memiliki beberapa keterbatasan. Pertama, AI tidak dapat beradaptasi dengan tantangan dan situasi baru. Manusia masih akan mengungguli AI dalam banyak profesi, terutama fungsi-fungsi yang membutuhkan kehalusan dan kompleksitas karakter. Ketika AI mengambil lebih banyak tugas, keterampilan yang dibutuhkan karyawan akan berubah. Keterampilan seperti pemecahan masalah dan kolaborasi dengan sistem AI akan menjadi lebih berharga namun memerlukan investasi besar dalam pelatihannya.
 
Untuk memitigasi risiko AI, seperti pemindahan pekerjaan, kesenjangan keterampilan, dan gangguan ekonomi, Wakil Menteri Komunikasi dan Informatika, Nezar Patria, mengumumkan bahwa ia akan berkolaborasi dengan berbagai lembaga dan mitra untuk melakukan asesmen regulasi penggunaan AI. Lebih lanjut, ia juga menyatakan bahwa pemerintah akan mengadakan diskusi dengan UNESCO mengenai bagaimana AI dapat dimanfaatkan secara etis. Namun, perusahaan juga harus memastikan bahwa mereka benar-benar memahami seluk beluk teknologi AI.
 
Dari sisi positif dengan keberadaan AI, keberadaannya dapat menjadi aset besar karena dapat membuat manusia unggul dalam pekerjaan mereka, selama kita tidak melupakan potensi risikonya dan menggunakannya secara bertanggung jawab.
 
“Cara kita memandang dan memanfaatkan teknologi AI akan memainkan peran penting dalam membentuk masa depan dunia kerja. Dalam lanskap yang berkembang pesat dan dipengaruhi oleh teknologi baru seperti AI, dunia usaha mempunyai tanggung jawab untuk memastikan karyawan mereka dilengkapi dan dilatih secara memadai untuk beradaptasi dengan perubahan sifat pekerjaan mereka dengan keberadaan AI” Pungkas Ram.
 
Pewarta : PR Wire
Editor: PR Wire
COPYRIGHT © ANTARA 2023