Krisis ekonomi Eropa menyebabkan permintaan batu bara dari Kalimantan Selatan ke negara-negara importir seperti China, India, Jepang dan Amerika Serikat terus turun.


Kepala Dinas Pertambangan Kalsel Heryo Dharma pada pembukaan pertemuan teknis dalam rangka pembinaan pengusahaan mineral dan batu bara, Selasa, mengatakan, krisis ekonomi itu menyebabkan beberapa negara mengurangi kebutuhan batu bara mereka.

"Khusus China, kebutuhan batu bara produksi mereka sendiri sudah mencukupi untuk industri mereka, sehingga tidak memerlukan lagi batu bara dari Kalsel," katanya.

Menurut Dharma, penurunan permintaan terhadap komoditas andalan Kalsel itu terjadi dalam dua tahun terakhir.

Dia mencontohkan, total produksi emas hitam di Kalsel pada 2011 yang tercatat 138,7 juta ton, namun terjual hanya 123 juta ton.

"Dengan kondisi seperti ini perusahaan pertambangan memilih menahan produksi, sehingga risiko kerugian dapat dikurangi," ujar Dharma.

Sampai Agustus 2012, jumlah izin perusahaan pertambangan di Kalsel sebanyak 888 terdiri atas dua kontrak karya, 19 PKB2B, 667 UP batu bara, 104 IUP galian mineral, dan 88 IUP bahan galian batuan.

Dharma mengingatkan, kendati memberikan kontribusi yang besar untuk pendapatan daerah, kegiatan pertambangan bisa berdampak negatif terhadap lingkungan, sehingga perusahaan tetap bertanggung jawab menjaga kelestarian alam

Salah satu caranya, kata dia, adalah perusahaan wajib memperhatikan kaidah-kaidah pertambangan yang baik sebagaimana yang telah diatur undang-undang.

Gubernur Kalsel Rudy Ariffin dalam satu kesempatan mengatakan, krisis global yang menyebabkan menurunnya permintaan batu bara dari Kalsel berpengaruh terjadap nilai dan volume ekspor Kalsel.

Batu bara merupakan penyumbang terbesar ekspor Kalsel selain produk perkebunan.

"Tapi hal tersebut tidak terlalu menjadi persoalan karena saat ini kita sedang mengembangkan produk pertanian secara luas," katanya.

Menurut Gubernur, kini Pemprov Kalsel sedang mengembangkan sektor perkebunan, baik itu sawit dan karet, selain beberapa produksi pertanian dan tanaman pangan lainnya.

  "Jadi ke depan kita tidak lagi bertumpu pada batu bara, tetapi sudah pada produksi pertanian secara luas, baik itu tanaman pangan perkebunan, sehingga saya yakin krisis ini tidak terlalu mengkhawatirkan," katanya./B/D.


Editor : Imam Hanafi

COPYRIGHT © ANTARA 2026