Kepala Badan Ketahanan Pangan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan Arbainsyah di Banjarmasin, Kamis mengatakan, dalam setiap tahunnya Kalsel menargetkan produksi kedelai sebesar 6 ribu ton, namun kenyataannya baru terealisasi 3 ribu ton per tahun.
Hal tersebut terjadi, tambah dia, karena sebagian besar petani Kalsel enggan untuk menanam kedelai karena pemeliharaan lebih sulit sedangkan modal tanamnya lebih besar.
Selain itu, kata dia, sebagian besar lahan di Kalsel merupakan lahan rawa dan pasang surut, sehingga kurang cocok untuk tanaman kedelai, tidak seperti di daerah Jawa dan lainnya.
"Tentang insentif terhada petani kedelai, programnya ada pada dinas pertanian," tuturnya.
Saat ini, kata dia, kebutuhan kedelai Kalsel mencapai 18 ribu ton per tahun, sehingga dengan produksi kedelai Kalsel yang hanya 3 tibu ton, tentu masih jauh dari mencukupi.
Dengan demikian, mau tidak mau industri tahu dan tempe Kalsel harus tetap mendatangkan dari luar daerah yang notabene juga merupakan kedelai impor.
"Karena harga kedelai tingkat nasional mahal, secara otomatis di Kalsel juga mahal," ucapnya.
Tentang upaya pemerintah daerah, tambah Arbain, untuk saat ini tidak banyak yang bisa dilakukan, karena kedelai sendiri tidak masuk dalam daftar kebutuhan sembilan bahan pokok yang distribusinya harus selalu dijaga.
"Berdasarkan data Bank Indonesia kedelai dan keturunannya termasuk tahu tempe, dampak bagi perekonomian Kalsel hanya 6 persen, jadi cukup kecil, walaupun hal tersebut tetap menjadi perhatian pemerintah untuk terus dikembangkan dan dicarikan jalan keluar bila ada persoalan," tukasnya.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Kalsel, Produksi kedelai tahun 2011 (ATAP) sebesar 4,37 ribu ton, naik 567 ton atau 14,89 persen dari tahun 2010.
Sedangkan produksi kedelai tahun 2012 (ARAM I) diperkirakan sebesar 3,59 ribu ton, mengalami penurunan sebanyak 782 ton (17,87 persen) dibandingkan tahun 2011.
Penurunan ini terjadi karena berkurangnya luas panen 685 hektare atau sekitar 20,42 persen.
Sebelumnya, kenaikan harga kedelai di pasaran cukup memukul pengusaha tahu dan tempe di Kalsel, karena mereka terpaksa menaikkan harga per bungkus rata-rata Rp1.000.
Namun ternyara, kenaikan tersebut membuat para pembeli enggan untuk membeli tahu dan memilih mengonsumsi makanan lainnya, akibatnya penjualan tahu turun drastis, dan sebagian besar rusak tidak terjual.
Editor : Ulul Maskuriah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.