Banjarmasin (ANTARA) - Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan PT Ambang Barito Persada (Ambapers) menunggu persetujuan kenaikan tarif angkutan pertambangan batu bara ekspor bagi pengguna alur ambang Sungai Barito.
"Kalau mendapat persetujuan, bisa menaikkan pendapatan daerah," ujar Direktur Utama (Dirut) Ambapers H Zulfadli Gazali di Banjarmasin, Kamis.
Menurut dia, persetujuan yang ditunggu tersebut dari Kementerian Perhubungan Republik Indonesia terkait rencana perubahan kenaikan tarif kapal pengangkut batu bara yang lewat di sungai Barito, wilayah Kalsel.
Selama ini, ungkap dia, PT Ambapers anak perusahaan PT Bangun Banua Kalsel yang mengelola aliran sungai Barito bekerjasama dengan PT Pelindo III untuk pemungutan tarif angkutan batu bara ekspor yang melalui sungai Barito.
Menurut Zulfadli, kalau rencana kenaikan tarif mendapat persetujuan, deviden buat PT Ambapers anak usaha PT Bangun Banua bisa mengalami kenaikan cukup signifikan.
"Apalagi porsi bagi hasil antara BUMD kita dan Pelindo akan alami perubahan kenaikan," katanya.
Menurut Zulfadli, kalau selama ini bagi hasil antara BUMD Kalsel dan PT Pelindo, yakni 60 persen bagi BUMD Kalsel dan 40 persen bagi PT Pelindo.
"Namun sesudah pertemuan Gubernur Kalsel Muhidin dengan Dirut Pelindo baru-baru ini berubah menjadi 70 persen dan 30 persen," ungkapnya.
Begitu pula rencana perubahan kenaikan tarif kalau mendapat persetujuan Kementerian Perhubungan Republik Indonesia, per metrik ton dari 0,30 dolar AS menjadi 0,50 dolar AS.
"Kalau selama deviden yang Bangun Banua terima dari Ambapers per tahun Rp17 miliar bisa menjadi Rp26 miliar atau naik sekitar 70 persen," lanjut Zulfadli.
Potensi kenaikan pendapatan daerah di sektor ini juga pihaknya sampaikan pada rapat bersama Komisi II DPRD Kalsel dalam rangka pembahasan Kebijakan Umum Anggaran-Prioritas Plafon Anggaran Sementara (KUA-PPAS) Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) provinsi setempat tahun 2027.
Pewarta: SukarliEditor : Ulul Maskuriah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.