Banjarmasin (ANTARA) - Badan Karantina Indonesia (Barantin) mencatat ekspor belut rawa asal Kalimantan Selatan (Kalsel) ke China mencapai Rp10,14 miliar sepanjang Januari hingga Juli 2026 dengan volume pengiriman sebanyak 205,6 ton.
Kepala Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Provinsi Kalsel Erwin A. M. Dabukke mengatakan peningkatan ekspor belut rawa asal Kalsel didukung pembukaan penerbangan kargo langsung Banjarmasin-China yang memperpendek rantai logistik pengiriman.
“Rantai logistik jadi lebih pendek. Kualitas belut lebih terjaga karena waktu tempuh lebih singkat,” ujar Erwin dalam kegiatan Go Ekspor Barantin Web Series Episode 3 di Banjarmasin, Rabu.
Berdasarkan data Barantin, komoditas tersebut telah dikirim sebanyak 72 kali dengan jumlah mencapai 1,4 juta ekor, meningkat dibandingkan 2025 yang hanya mencatat 17 kali pengiriman senilai Rp1,92 miliar.
“Sebelumnya eksportir harus mengirim belut melalui Jakarta atau Surabaya sebelum diteruskan ke negara tujuan, sehingga jalur langsung dari Banjarmasin memberikan efisiensi waktu sekaligus membantu menjaga kualitas komoditas selama proses distribusi,” katanya.
Erwin menyebut, potensi rawa dan lahan basah di Kalimantan Selatan menjadi modal penting dalam pengembangan belut rawa karena wilayah tersebut memiliki sumber daya perikanan yang bernilai ekonomi dan diminati pasar.
Dia menekankan sinergi pemerintah, pelaku usaha, dan instansi karantina diperlukan untuk menjaga mutu serta meningkatkan daya saing belut rawa asal Kalsel agar mampu memperluas pasar ekspor.
Pelaksana Tugas Deputi Bidang Karantina Ikan Barantin Sugeng Sudiarto mengatakan, belut rawa menjadi salah satu komoditas perikanan yang memiliki peluang pengembangan di pasar internasional, namun setiap produk ekspor wajib memenuhi persyaratan kesehatan sesuai ketentuan negara tujuan.
“Belut hidup yang diekspor harus diperiksa kesehatannya dan dipastikan bebas hama penyakit ikan. Ini bukan hanya syarat negara tujuan, tapi juga untuk menjaga kepercayaan pasar terhadap produk Indonesia,” tuturnya.
Barantin tidak hanya melakukan pengawasan, tetapi juga memberikan pendampingan kepada pelaku usaha melalui fasilitasi dokumen ekspor, pemeriksaan kesehatan media pembawa, hingga penerbitan sertifikat kesehatan untuk memperlancar akses pasar global.
Sugeng menegaskan, pengembangan ekspor belut rawa tidak hanya berorientasi pada perdagangan komoditas, tetapi juga meningkatkan nilai tambah sumber daya perikanan Indonesia serta membuka peluang peningkatan kesejahteraan masyarakat di daerah.
Kepala Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Karantina Wisnu Wasisa Putra mengatakan, edukasi kepada pelaku usaha melalui kegiatan seperti Go Ekspor Barantin Web Series yang digelar Karantina Kalsel penting untuk meningkatkan pemahaman mengenai prosedur ekspor dan peluang pasar internasional.
“Kami ingin pelaku usaha Kalsel melek peluang global dan siap bersaing,” ujarnya.
Barantin dalam kegiatan tersebut juga menghadirkan eksportir belut untuk berbagi strategi memenuhi standar mutu negara tujuan sehingga pelaku usaha daerah semakin siap memanfaatkan peluang perdagangan internasional.
Pewarta: Tumpal Andani AritonangEditor : Ulul Maskuriah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.