Gubernur Kalimantan Selatan Rudy Ariffin segera menemui Menteri Energi Sumber Daya Mineral untuk mempertanyakan kebijakan kuota BBM di Kalimantan Selatan yang lebih kecil dibanding kebutuhan masyarakat didaerah itu.
"Pada Kamis (15/3) kita dipanggil presiden untuk mendengarkan penjelasan terkait kebijakan kenaikan harga BBM, pada kesempatan tersebut kita akan tanyakan tentang kuota Kalsel," kata gubernur di Banjarmasin, Selasa.
Diharapkan, pada pertemuan tersebut pihaknya bisa mendapatkan jawaban tentang permintaan Pemprov Kalsel untuk penambahan kuota BBM sesuai dengan kebutuhan warga Kalsel saat ini.
Menurut dia, tidak mungkin kelangkaan BBM bersubsidi saat ini bisa teratasi tanpa adanya penambahan kuota, karena antara kebutuhan dan ketersediaan BBM sudah tidak seimbang lagi.
Sebelumnya, gubernur mengatakan, kenaikan kuota bersubsidi di Kalsel seharusnya kurang lebih 20 persen dari kuota yang ada saat ini, bahkan mungkin lebih.
Hal tersebut, mengingat perkembangan pertumbuhan mobil dan sepeda motor di Kalsel yang cukup tinggi dalam beberapa tahun terakhir yaitu mencapai 110 persen.
Gubernur berharap, rencana kenaikan BBM pada April 2012 tersebut tidak akan terlalu memicu terjadinya kenaikan harga barang baik di pasar hingga tingkat distributor.
"Saya harap pemerintah dan Pertamina bisa menyediakan stok BBM yang memadai, sehingga kenaikan harga BBM yang terjadi nanti tidak terlalu berdampak ke masyarakat," katanya.
Jangan sampai, kenaikan BBM yang terjadi saat ini, diikuti dengan kelangkaan di SPBU sehingga memicu terjadinya kenaikan BBM dua kali, dari pemerintah dan akibat kelangkaan.
Humas PT Pertamina wilayah Kalimantan, Bambang Irianto mengatakan, selama pemerintah tidak menaikkan kuota BBM bersubsidi di wilayah Kalimantan maka kelangkaan bensin dan solar masih akan terus terjadi sampai kapanpun.
Hal tersebut terjadi, kata dia, karena kebutuhan BBM di Kalimantan Selatan tidak seimbang dengan kuota BBM yang ditetapkan pemerintah.
Pada 2011 kuota BBM bersubsidi untuk Kalsel berupa premium sebanyak 461.052 kiloliter per realisasinya mencapai 478.355 kl, kerosine 181.969 kl dan realisasi 162.848 kl/bulan sedangkan solar 253.067 kl realisasi 260.500 kl.
Sementara itu, berdasarkan surat Gubernur Kalsel 6 Januari 2012 yang ditujukan kepada Menteri ESDM, Kepala BPH Migas dan Pimpinan Pertamina Pusat, mengharapkan kuota BBM bersubsidi 2012, berupa premium 583.593 kiloliter (kl) dan solar 317.810 kl.
"Jadi kenaikan BBM bukan jaminan kelangkaan tidak terjadi lagi, karena kebutuhan BBM masih berdasarkan subsidi," katanya.(B/A)
Editor : Ulul Maskuriah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.