Pengamat Hama Penyakit Dinas Pertanian Kabupaten Barito Kuala Fauzan Muslim di Marabahan, Minggu mengatakan, selama ini pupuk kimia di Kabupaten Batola sering terjadi kelangkaan.
Menurut dia, kondisi itu sangat merugikan petani karena kelangkaan pupuk tidak hanya mengganggu proses produksi tanaman padi tetapi juga harga pupuk melambung.
"Karena terlalu sering menghadapi kondisi tersebut akhirnya petani berusaha mencari jalan lain dengan memanfaatkan sampah," katanya.
Setelah beberapa kali mengadakan uji coba dengan berbagai bahan baku, tambah Fauzan, akhirnya petani Desa Antar Baru Kecamatan Marabahan berhasil membuat pupuk organik dari eceng gondok.
Hasilnya, kata dia, diluar dugaan selain produksi tanaman lebih bagus biaya untuk pupuk juga jauh lebih murah.
Menurut Fauzan dengan menggunakan pupuk kimia seperti urea dan lainnya petani harus mengeluarkan biaya Rp5 juta/hektare namun pupuk organik eceng gondok petani cukup hanya Rp500 ribu/hektare.
Pemanfaatan eceng gondok sebagai pupuk organik juga memiliki manfaat ganda selain menguntungkan karena mampu menekan biaya produksi beras dan pertanian lain juga bisa membersihkan sungai.
Eceng gondok selama ini menjadi permalasahan serius karena mengganggu arus air sungai.
Tidak jarang lalu lintas air di beberapa daerah di Kalsel macet karena sungai ditutup eceng gondok yang sulit disingkirkan.
Keuntungan lain, kata dia, eceng gondok yang dulunya tidak memiliki nilai ekonomi kini dihargai Rp200 ribu perkapal atau perkelotok oleh pengolah pupuk organik.
Saat ini, kata Fauzan pupuk organik tersebut mulai dikembangkan untuk pertanian di Batola baik untuk pupuk tanaman sayur mayur, tanaman buah-buahan dan lainnya.
"Ini adalah komitmen dan idealisme kami untuk menyelamatkan generasi bangsa dari pencemaran bahan kimia yang masuk ke dalam tubuh melalui bahan makanan," kata Fauzan.
Pembuatan pupuk organik eceng gondok telah membawa harum nama Kabupaten Batola karena menang diajang perlombaan tingkat provinsi, nasional bahkan Asia.
: Abdul Hakim Muhiddin
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.