Rantau (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Tapin, Provinsi Kalimantan Selatan, menyebutkan potensi wilayah rawan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Tapin pada 2026 cenderung menurun dibandingkan tahun sebelumnya setelah adanya program cetak sawah di sejumlah kawasan lahan tidur.
Kepala Pelaksana BPBD Tapin Muhammad Nor di Rantau, Senin, mengatakan program cetak sawah membantu mengurangi luasan semak belukar dan lahan tidak produktif yang selama ini rawan terbakar saat musim kemarau.
“Potensi titik rawan Karhutla tahun ini cenderung berkurang karena adanya program cetak sawah, sehingga lahan yang sebelumnya berupa semak dan lahan tidur mulai dimanfaatkan,” ujar Muhammad Nor.
Baca juga: Pemkab Tapin petakan tujuh Kecamatan rawan karhutla
Ia menyebutkan, lahan tidak produktif yang dipenuhi ilalang dan semak kering selama ini menjadi salah satu faktor utama pemicu kebakaran lahan di Tapin.
“Area yang tidak dikelola biasanya dipenuhi bahan mudah terbakar sehingga saat musim kemarau api cepat menyebar,” katanya.
Menurut M Nor, perubahan fungsi lahan menjadi area pertanian produktif membantu menekan risiko munculnya titik api di sejumlah wilayah rawan.
Meski demikian, kata dia, BPBD Tapin tetap melakukan pemantauan di beberapa kecamatan yang memiliki riwayat Karhutla dalam beberapa tahun terakhir.
“Wilayah seperti Candi Laras Utara, Candi Laras Selatan, Binuang, hingga Piani tetap menjadi perhatian karena memiliki potensi kerawanan,” tambahnya.
Baca juga: Pemkab Tapin pantau kemunculan ikan sapu-sapu di sungai
Ia mengungkapkan, untuk mengantisipasi musim kemarau BPBD bersama instansi terkait menyiapkan patroli terpadu, pemantauan hotspot, serta penguatan relawan desa dan kelompok masyarakat peduli api.
“Kami tetap memperkuat langkah pencegahan karena cuaca panas ekstrem dan aktivitas pembakaran lahan masih berpotensi memicu Karhutla,” ucap Muhammad Nor.
Kalak BPBD Tapin mengimbau, agar masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar dan segera melapor apabila menemukan titik api agar penanganan bisa dilakukan sebelum kebakaran meluas.
Pewarta: Muhammad Rastaferian PasyaEditor : Sukarli
COPYRIGHT © ANTARA 2026