Saatnya nilai-nilai pendidikan karakter dari ajaran agama bagi tumbuh kembang peserta didik bisa secara optimal dilakukan pada Ramadhan ini,"

Banjarmasin (ANTARA) - Pakar pendidikan dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Prof Ahmad Suriansyah, M.Pd, Ph.D mengatakan Ramadhan seyogianya menjadi momentum untuk memperkuat pendidikan karakter siswa melalui berbagai praktik keagamaan di dalam proses pembelajaran.

"Saatnya nilai-nilai pendidikan karakter dari ajaran agama bagi tumbuh kembang peserta didik bisa secara optimal dilakukan pada Ramadhan ini," kata dia di Banjarmasin, Rabu.

Dia menekankan agar guru bisa merancang pola pembinaan karakter yang terintegrasi dalam proses pembelajaran di kelas.

Namun harus dipastikan pula terlaksananya implementasi dari pembelajaran karakter tersebut.

Artinya pendidikan karakter bukan hanya sebuah teori dari materi yang disampaikan guru melainkan sebuah teladan langsung untuk ditiru peserta didik.

"Banyak orang paham nilai-nilai kebaikan namun tidak banyak orang melakukan apa yang sudah diketahuinya berkaitan kebenaran dari nilai baik tersebut," jelas Prof Sur, sapaan akrab penerima anugerah ISMAPI Award 2025 kategori ISMAPI Scientist ini.

Koordinator S3 Administrasi Pendidikan ULM ini juga menyoroti program Pesantren Ramadhan di sekolah yang biasanya hanya diisi ceramah agama namun tidak membentuk kebiasaan dari peserta didik sebagai wujud implementasinya.

Misalnya saat azan berkumandang, maka seharusnya proses pembelajaran di kelas dihentikan dan semua siswa muslim diwajibkan melaksanakan shalat.

Prof Sur menyebut shalat tepat waktu merupakan sarana utama menanamkan disiplin, membentuk karakter konsisten, dan manajemen waktu yang efektif.

Di sisi lain, Prof Sur menyatakan pentingnya membuat strategi pembelajaran yang efektif dan menarik sehingga menurunnya daya konsentrasi siswa akibat perut lapar setelah berpuasa bisa diminimalisasi.

Oleh karena itu, diperlukan kreativitas tinggi dari guru melaksanakan model pembelajaran inovatif sehingga dapat meningkatkan minat dan daya belajar.

"Yang pasti harus berbasis kontekstual yakni menghubungkan materi pembelajaran dengan konteks dunia nyata atau pengalaman sehari-hari," tambahnya.

 



Pewarta: Firman
Editor : Mahdani

COPYRIGHT © ANTARA 2026