Banjarbaru (ANTARA) - PLN memberikan penjelasan terkait token listrik prabayar yang kerap disamakan dengan pulsa seluler, padahal mekanisme perhitungannya berbeda, mengingat pulsa seluler berbentuk saldo rupiah untuk layanan komunikasi, token listrik merupakan pembelian energi listrik yang dihitung dalam satuan kilowatt hour (kWh).
Pelanggan PLN pada sistem listrik prabayar, membeli energi listrik di awal dalam jumlah tertentu dan energi itu berkurang seiring penggunaan listrik dari seluruh peralatan di rumah hingga kWh habis dan perlu diisi ulang kembali.
Executive Vice President Komunikasi Korporat dan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT PLN (Persero) Gregorius Adi Trianto melalui keterangan tertulis Humas PT PLN UID Kalselteng di Banjarbaru, Sabtu menjelaskan, sistem listrik prabayar dirancang agar pelanggan dapat mengetahui dan mengendalikan konsumsi listrik sejak awal.
"Pelanggan pas sistem prabayar, membeli alokasi energi listrik dalam jumlah tertentu. Alokasi itu digunakan seluruh peralatan listrik di rumah dan berkurang seiring pemakaian, karena itu, total energi tersedia dalam satuan kilowatt hour," ujar Gregorius.
Baca juga: PLN Kalselteng siap suplai listrik andal industri strategis nasional di Kalsel
Menurut Gregorius, penggunaan listrik tidak dapat dipisahkan berdasarkan fungsi atau jenis peralatan karena seluruh peralatan rumah tangga menggunakan sumber energi yang sama sehingga pengurangan dihitung dari total energi yang terpakai.

Gregorius menjelaskan, dalam setiap pembelian token listrik prabayar, terdapat sejumlah komponen yang dipotong di awal, di antaranya Pajak Penerangan Jalan (PPJ) yang besarannya ditetapkan pemerintah daerah serta biaya administrasi sesuai kanal pembelian. Selain itu, pembelian dengan nominal di atas Rp5 juta juga dikenakan bea meterai sesuai ketentuan.
Sebagai ilustrasi, pelanggan rumah tangga dengan daya 1.300 volt ampere (VA) yang membeli token listrik senilai Rp100.000 dikenakan potongan PPJ dan biaya administrasi. Setelah dipotong, nilai yang dikonversi menjadi energi listrik berkisar antara Rp90.000 hingga Rp94.000.
"Tarif listrik rumah tangga daya 1.300 VA sebesar Rp1.444,70 per kWh, nominal itu setara dengan sekitar 63 hingga 65 kWh. Jumlah itu lah yang masuk ke meteran listrik dan terus berkurang sesuai pemakaian listrik di lingkungan rumah. Sistem token listrik prabayar memberi kendali langsung kepada pelanggan dalam mengatur konsumsi listrik sehari-hari," jelasnya
Ditekankan, token listrik prabayar merupakan pembelian energi, bukan sekadar nominal rupiah dan seluruh perhitungan dilakukan transparan dan tercatat di sistem. Sederhananya, token listrik adalah alokasi pemakaian listrik yang akan terus berkurang saat listrik digunakan.
Diharapkan dengan memahami cara kerja token listrik prabayar, pelanggan mengetahui perbedaan antara nominal pembelian dan jumlah kWh diterima, serta mampu merencanakan penggunaan listrik lebih bijak sesuai kebutuhan.
