Banjarmasin (ANTARA) - Ustadz H Muhammad Ghazali Mukri dan seorang ulama Tuan Guru Haji Zainuddin Rais membicarakan kepribadian sejati seorang Muslim dari sudut pandang berbeda.
Ustadz. Ghazali Mukri dalam tausiyahnya di Masjid Assa'adah, Komplek Beruntung Jaya, Banjarmasin, Jumat malam, mengangkat persoalan bertutur kata yang semestinya bagi seorang Muslim.
"Allah Subhanahu WaTaala melalui Al Qur'an telah mengajarkan kepada hambaNya bertutur kata yang sopan dan santun, bukan secara vulgar atau kasar," ujar alumnus Universitas Kairo Mesir bergelar "Licentiate" (Lc) tersebut.
Ia contohkan sepasang suami istri yang mau berhubungan dan kebetulan istrinya baru selesai haid, maka si suami tak langsung mengemukakan keinginannya. Ia sepatutnya lebih dulu menanya sang istri, apakah sudah mandi bersih.
"Pasalnya sesuai syari'at Islam, pasangan suami istri yang mau berhubungan, dan kebetulan sang istri baru selesai haid, harus mandi wajib terlebih dahulu," HM Ghazali Mukri menjelaskan.
Ustadz Ghazali mengemukakan hal tersebut dalam kajian rutin, dan pada malam itu ia membahas tentang hadas besar serta menyucikan diri atau mandi wajib, baik bagi laki-laki maupun perempuan Muslim.

Sementara Tuan Guru H Zainuddin Rais dalam tausiyah pada tempat yang sama, Sabtu pagi, banyak membicarakan peran hati terhadap kehidupan seseorang.
Dalam kajian rutin Kitab "Ihiya Ulumuddin" karya Imam Ghazali, tuan guru tersebut menyatakan seseorang yang hatinya menjauh dari Allah akan melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan tuntunan Islam.
Begitu pula, seorang Muslim yang dekat dengan dunia, maka pada umumnya jauh dari Allah, ujar Tuan Guru Zainuddin.
"Orang sugih (kaya) pada dasarnya sama saja dengan orang susah dalam beramal ibadah. Pada intinya, hati yang menentukan," lanjutnya.
Ia menambahkan, bahwa orang sugih tersebut berada pada jalan sempit akibat kesibukannya dengan harta, sehingga hubungannya dengan Alllah bisa terabaikan.
"Kecuali orang sugih itu bisa menempatkan diri, misalnya dengan tulus ikhlas beramal ibadah, tanpa menampakkan ria, kesombongan atau kecongkakkan,".demikian H Zainuddin Rais.
