Sejak dicanangkannya Gerakan Masyarakat Meningkatkan Mutu Karet berkali-kali saya ajak petani untuk mengubah pola pikirnya untuk memproduksi karet olahan shit angin dengan kualitas lebih baik dan tentunya harga jualnya juga lebih tinggiTanjung (Antaranews Kalsel) - Koperasi Karet Yudistira di Desa Kembang Kuning Kecamatan Haruai, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan, menggandeng pengusaha asal Surabaya Jawa Timur untuk pemasaran karet olahan shit angin.
Pengurus Koperasi Yudistira Hasudungan Simatupang di Tanjung, Selasa, menyatakan, pihaknya telah menandatangani perjanjian kerja sama suplai karet shit angin dengan PT Perdamaian Indonesia Surabaya.
"Karet olahan shit angin nantinya kita suplai ke PT Perdamaian Indonesia sesuai dengan spesifikasi yang telah disepakati dalam perjanjian dan kerja sama ini diharapkan bisa memotivasi petani karet Tabalong untuk memproduksi karet dengan kualitas lebih baik," jelas Simatupang.
Selama ini petani karet lokal masih menghasilkan karet olahan berupa lump mangkok dengan kualitas rendah sehingga harga jualnya pun lebih murah.
Bupati Tabalong Anang Syakhfiani pun menyambut baik terobosan baru dari Koperasi Yudistira yang berhasil menjalin kerja sama dengan pengusaha Surabaya untuk membeli karet olahan dari petani di "Bumi Saraba Kawa" itu.
"Sejak dicanangkannya Gerakan Masyarakat Meningkatkan Mutu Karet berkali-kali saya ajak petani untuk mengubah pola pikirnya untuk memproduksi karet olahan shit angin dengan kualitas lebih baik dan tentunya harga jualnya juga lebih tinggi," ungkap Anang.
Bahkan Pemerintah Kabupaten Tabalong telah memberikan bantuan peralatan shit angin kepada lima Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) di wilayah ini untuk memotivasi petani memproduksi karet olahan berkualitas.
Sementara itu harga karet olahan lump mangkok di Kabupaten Tabalong belum mengalami peningkatan masing-masing berkisar antara Rp5.000 sampai Rp6.000 per kilogramnya.
Pewarta: Herlina LasmiantiEditor : Hasan Zainuddin
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.