Plt Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri Gusti Yasni Iqbal di Banjarmasin, Senin mengatakan, turunnya ekspor itu disebabkan cuaca ekstrem yaitu gelombang besar dan angin kencang sehingga beberapa pelaut memilih istirahat.
"Volume ekspor perikanan memang masih jauh dari harapan selain karena tergantung dengan cuaca juga pengembangan belum maksimal," katanya.
Begitu juga dengan nilai ekspor turun drastis dari 4 juta dolar AS menjadi hanya 2,4 juta dolar AS atau merosot hingga 39 persen.
Menurut Iqbal, pada dasarnya potensi sektor perikanan Kalsel cukup besar hanya saja belum digarap dengan baik karena masih mengandalkan hasil tangkapan.
Budi daya tambak dan lainnya belum dilakukan secara maksimal sehingga volume ekspor baik itu udang dan lainnya tergantung musim.
Data BKPMD Kalsel menyebutkan, budi daya ikan dalam karamba di Kalsel berkembang pesat terutama di Kabupaten Banjar (Karang Intan, Riam Kanan) dan di Kabupaten Tabalong dan Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU).
Berdasarkan hasil kajian dan penelitian Dirjen Perikanan Budi Daya, Made L. Nurjana dan kawan-kawan, potensi lahan budi daya laut Kalsel sebagian besar lokasinya berada di Kabupaten Kotabaru.
Potensi lahan pengembangan budi daya laut di Kalsel diukur lima kilomter dari pantai adalah seluas sekitar 107.000 hektare dengan komoditi Kakap (Lates carcarifer), Kerapu (Ephinephelus spp), Tiram (Pinctada maxima) dan Rumput Laut (Euchema spp).
Sedangkan lahan budi daya laut yang diperhitungkan pada daerah-daerah teluk yang terlindung seluas kurang lebih 7.600 hektare dan saat ini yang sudah dimanfaatkan bagi usaha budi daya rumput laut seluas kurang lebih 415 hektare di perairan Teluk Tamiang sampai Teluk Sirih.
Sedangkan budi daya Kakap dan Kerapu saat ini masih dalam tahap kaji terap, sedang Tiram/Kerang mutiara pada tahap penelitian.
Editor : Abdul Hakim Muhiddin
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.