Kotabaru, (Antaranews.Kalsel) - Hujan yang mengguyur Kotabaru, Kalimantan Selatan, dan sekitarnya mulai pukul 05.00-07.30 Wita telah menyebabkan banjir 0,5-1 meter di sejumlah sudut Kota Kotabaru.
Seorang warga Kotabaru, Sugeng, Senin, mengatakan begitu dirinya bangun tidur, air telah masuk rumah dengan ketinggian sekitar satu meter.
"Banyak dokumen penting dan buku-buku di lemari terendam air dan lumpur, diantaranya sertifikat rumah, akte jual beli tanah kavling, dokumen keanggotaan koperasi dan berkas penting lainnya," tutur Sugeng.
Meski tidak menelan korban jiwa, namun dampak yang timbulkan banjir tersebut terjadi kemacetan di sejumlah ruas jalan sepanjang jalan Veteran Km1, Jalan Agus Salim, jalan raya Semayap, Desa Baharu dan Kelurahan Dirgahayu.
Dari pantauan, kondisi terparah terjadi di kawasan perkantoran Jl Delima dan sekitarnya.
Selama musim hujan belakangan ini, menurut dia, di kawasan tempat tinggalnya sering mengalami banjir kiriman dari atas, bisa sampai tiga kali dalam seminggu biasanya kalau hujan lebat.
Namun banjir kali ini merupakan terparah dari yang pernah dialami.
Keterangan yang berhasil dihimpun, kondisi serupa juga dialami sejumlah rumah dan kantor di kawasan Sungai Taib, tanpa terkecuali kantor KPU Kotabaru berada.
Akibat banjir yang terjadi Senin pagi itu, mengakibatkan terendamnya 1.400 surat suara yang telah dilipat dan siap didistribusikan.
Kepala Dinas Cipta Karya, Perumahan dan Permukiman Kotabaru, H Akhmad Rivai MSi, ketika dikonfirmasi, mengakui adanya kerawanan banjir di sejumlah titik di Kotabaru khususnya kawasan kota.
"Terjadinya banjir di Kotabaru ini disebabkan tidak maksimalnya fungsi sistem drainase yang ada, karena kebanyakan ketinggian hampir sejajar dengan sungai," ungkap Rivai.
Diakuinya telah melakukan pembenahan secara bertahap, namun menurut dia, hal itu tidak akan serta merta menyelesaikan masalah banjir, sebab belum sampai pada akar permasalahan terjadinya banjir itu sendiri.
Menurutnya muara permasalahan banjir Kotabaru karena tidak berfungsinya sungai.
Di mana volume air tidak sesuai dengan kapasitas sungai yang telah banyak mengalami pendangkalan dan penyempitan.
"Oleh sebab itu, selain pembenahan tetap dilakukan baik mengenai perbaikan sistem drainase dan saluran di bagian atas, yang jauh lebih penting lagi yakni melakukan normalisasi sungai," ujar Rivai.
Dia mengatakan bahwa pihaknya akan berkoordinasi dengan intansi terkait sehubungan dengan rencana normalisasi sungai yang akan diawali dengan mendata di titik mana yang diprioritaskan.
: Imam Hanafi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.