Banjarmasin, (Antaranews.Kalsel) - Wakil Ketua DPRD Kalimantan Selatan Muhammad Iqbal Yudiannoor mengatakan, perusahaan tambangan yang beroperasi di Pulau Sebuku, Kabupaten Kotabaru, PT Silo, tidak bisa lepas tanggungjawab terhadap dampak bencana 4 Februari lalu.
"Apapun alasannya, baik karena luapan air pada bekas tempat pencucian bijih besi, terlebih kalau jebolnya tanggul pencucian milik PT Sebuku Iron Lateritic Ores (Silo), maka perusahaan tersebut tidak bisa lepas tanggungjawan," ujarnya di Banjarmasin, Senin.
"Walau tempat pencucian bijih besi itu tidak difungikan lagi bertahun-tahun lamanya, tetapi perusahaan pertambangan tersebut tetap bertanggungjawab. Karena setidaknya perusahaan tersebut memperkirakan kemungkinan bencana dan mengantisipasi secara dini," ucapnya.
Mantan Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Demokrat Kalsel itu mengaku, pihaknya menerima informasi cukup bervariasi dari warga masyarakat dan media massa atas peristiwa atau bencana yang melanda wilayah timur provinsi tersebut.
Ada yang menginformasikan bencana banjir yang melanda Desa Sungai Bali, Pulau Laut dan sekitarnya itu, karena jebolnya tanggul pencucian bijih besi milik PT Silo, ungkap putra dari H Sjachrani Mataya, mantan Bupati Kotabaru.
Ada pula yang menginformasikan, bencana itu terjadi karena air bekas pencucian bijih besi meluber, disebabkan curah hujan yang tinggi serta bersamaan dengan pasang naiknya air laut, katanya.
Karenanya, menurut dia, untuk pengecekan kepastian informasi tersebut, sebaiknya Komisi III DPRD Kalsel yang juga membidangi pertambangan dan energi, serta lingkungan hidup, melakukan investigasi, antara lain dengan cara peninjauan lapangan.
"Dari hasil peninjauan lapangan atau investigasi tersebut, baru kita melakukan pengecekan silang dengan perusahaan pertambangan bijih besi di pulau yang berbatasan dengan Laut Sulawesi dan Selat Makassar itu," ujar Iqbal.
Atas kejadian tersebut, perusahaan pertambangan bijih besi itu membuka dapur umum, guna meringankan beban warga masyarakat yang terkena bencana banjir pada 4 Februari 2014.
Sebelumnya, manajemen perusahaan pertambangan bijih besi di Pulau Sebuku itu mengundang sejumlah petinggi media massa di Banjarmasin/Kalsel, untuk melakukan klarifikasi atas bencana yang terjadi 4 Februari 2014.
Dalam pertemuan dengan awak media, 12 Februari 2014, manajemen perusahaan pertambangan tersebut menerangkan, bencana banjir yang melanda Desa Sungai Bali dan sekitarnya 4 Februari lalu, bukan karena jebolnya tanggul pencucian hasil tambang mereka.
"Menurut mereka, peristiwa banjir itu, karena air di bekas tempat pencucian bijih besi meluber disebabkan curah hujan yang tinggi beberapa hari berturut-turut," ucapnya.
: Imam Hanafi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.