Martapura, (Antaranews.Kalsel) - Jumlah pemilih di Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan, yang sudah masuk daftar pemilih tetap pemilihan umum legislatif 2014 tetapi tidak memiliki nomor induk kependudukan mencapai 11 ribu pemilih.
"Ada 11 ribu pemilih dalam daftar pemilih tetap yang tidak memiliki nomor induk kependudukan dan nomor kartu keluarga," ujar Anggota Komisi Pemilihan Umum Banjar Fajeri Tamzidillah di Martapura, Minggu.
Menurut Koordinator Divisi sosialisasi pendidikan pemilih dan pengembangan SDM itu, sebelumnya jumlah pemilih yang tidak memiliki NIK dan nomor kartu keluarga (NKK) sebanyak 26 ribu pemilih.
Namun, setelah dicocokkan antara data pemilih milik Kementerian Dalam Negeri dalam Data Penduduk Potensial Pemilih Pemilu (DP4) dengan jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) milik KPU Banjar, jumlahnya jauh berkurang.
"Pengurangannya mencapai 15 ribu pemilih, sehingga jumlah pemilih yang masuk DPT tetapi masih belum punya NIK maupun NKK secara keseluruhan sebanyak 11 ribu yang tersebar pada seluruh daerah pemilihan," ucapnya.
Dijelaskan, belum adanya NIK dan NKK pemilih itu disebabkan beberapa faktor, diantaranya karena pada saat petugas melakukan pendataan pemilih bersangkutan tidak berada di tempat sehingga tidak tercatat datanya.
Kemudian, ada juga pada saat petugas datang, pemilih sama sekali tidak memiliki Kartu Tanda Penduduk baik karena belum pernah membiki kartu identitas itu atau karena hilang serta ada yang ketinggalan KTP.
"Faktor-faktor diatas adalah contoh kasus yang membuat pemilih belum memiliki NIK dan NKK meski pun mereka sudah masuk dalam DPT dan mempunyai hak memilih dalam pemilu legislatif nanti," ujarnya.
Dikatakan, pihaknya masih menunggu informasi dari KPU pusat dan KPU provinsi terkait perbaikan data NIK dan NKK pemilih yang sudah masuk daftar pemilih tetap pemilu legislatif bulan April 2014.
"Selain menunggu informasi KPU, kami juga sudah pro aktif melaporkan ke Dinas Kependudukan Pencatatan Sipil terkait pemilih tanpa NIK dan NKK sehingga diharapkan dinas terkait itu bisa mencari jalan keluarnya," katanya
: Imam Hanafi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.