Tim Peneliti Politeknik Negeri Banjarmasin (Poliban) Kalimantan Selatan menghadirkan terobosan inovatif melalui pemanfaatan oli bekas sebagai aditif bahan bakar batubara.

Perwakilan Tim Peneliti Poliban Dr. Teguh Suprianto di Banjarmasin, Sabtu, menyampaikan, terobosan ini tercetus atas perhatian terhadap industri kerajinan logam di Negara, Hulu Sungai Selatan, yang kini kesulitan memenuhi kebutuhan bahan bakar.

Pengrajin logam di Negara masih bergantung pada arang kayu ulin sebagai bahan bakar utama. Namun, keterbatasan sumber daya kayu ulin serta harga yang semakin tinggi mendorong perlunya alternatif yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Karenanya, ungkap dia, timnya melaksanakan program pemberdayaan masyarakat dengan mencampurkan batubara dan oli bekas sebagai bahan aditif dalam proses pembakaran logam.

Baca juga: Poliban olah limbah plastik jadi energi alternatif dukung industri cor logam
 

"Kami mencampurkan oli bekas menggunakan metode semprotan (spray) dengan perbandingan 1 persen, 2 persen dan 3 persen untuk mengevaluasi hasil serta membandingkan efisiensi pembakaran sebelum dan sesudah pencampuran," jelas Dr. Teguh.

Dikatakan dia, program ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi pembakaran dan mendukung industri lokal agar beralih ke batubara sebagai bahan bakar utama, sehingga dapat mengurangi ketergantungan pada kayu ulin.

"Untuk tahapannya, ada empat proses yang dilakukan, yakni pengumpulan oli bekas, persiapan batubara dengan cara dihancurkan agar ukurannya seragam sekaligus bisa dikeringkan untuk mengurangi kadar air, pencampuran batubara dengan oli bekas, serta pengujian dan pembakaran batubara yang telah dicampur oli bekas menggunakan furnace atau tungku kecil," ujarnya.

Dr Teguh juga menegaskan bahwa pemanfaatan batubara dengan aditif oli bekas yang relatif mudah diperoleh, dapat menekan biaya produksi secara signifikan.

"Biasanya proses peleburan menggunakan LPG atau arang yang harganya mahal dan ketersediaannya tidak stabil. Dengan penggunaan batubara dan oli bekas ini, proses produksi menjadi lebih hemat," katanya.

Baca juga: Poliban pasang alat cerdas bantu deteksi karhutla di perkebunan


 

Pewarta: Sukarli

Editor : Mahdani


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Selatan 2025