Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kalimantan Selatan (DPKP Kalsel) meluncurkan inovasi digital bernama Si Sapa Intan atau Sistem Pemantauan dan Evaluasi Pemanfaatan Alat dan Mesin Pertanian, sebagai langkah strategis mengoptimalkan penggunaan alat dan mesin pertanian (alsintan).
Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Pertanian Dinas Pertanian Kalsel Dr. Amarullah di Banjarbaru, Jumat, mengatakan Si Sapa Intan merupakan sistem berbasis digital yang memungkinkan pemantauan dan evaluasi data alsintan secara real time, meliputi lokasi, jenis, kondisi, dan status pemanfaatan alat.
Baca juga: Kalsel programkan pompanisasi untuk perluas lahan pertanian
“Tujuan utama Si Sapa Intan adalah menciptakan database alsintan yang akurat dan terintegrasi, sehingga pemerintah bisa memantau sejauh mana alat tersebut dimanfaatkan, sekaligus memastikan pengelolaan dan distribusi merata,” ujarnya.
Ia mencontohkan, dengan sistem ini kebutuhan lintas wilayah dapat dijembatani.
“Jika satu daerah kekurangan alsintan, sementara di tempat lain ada yang belum digunakan, maka alat tersebut bisa dipinjamkan. Semua saling terkoneksi,” katanya.
Lebih dari sekadar pengelolaan data, kata Amarullah, Si Sapa Intan diharapkan mampu mentransformasi sektor pertanian melalui digitalisasi, sehingga menjadi daya tarik generasi muda untuk menekuni pertanian dengan pendekatan modern.
“Pertanian adalah sektor unggulan yang berkelanjutan. Dengan digitalisasi, kami ingin petani milenial merasa bangga dan tertarik masuk ke sektor ini,” tegasnya.
Baca juga: Pj Bupati HSS: 30 ribu hektare lahan pertanian masuk masa panen
Inovasi tersebut mendapat dukungan luas dari Kementerian Pertanian, Balai Penelitian Pertanian, BBPP Binuang, Pemerintah Provinsi Kalsel, serta pelaku utama pertanian seperti kelompok tani, gapoktan, dan Unit Pelayanan Jasa Alsintan (UPJA).
Sejumlah tokoh juga menyatakan dukungan, di antaranya Plt Irjen Kementan RI Tin Latifah, Sekretaris Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Kementan Mulyono, Dekan Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat Prof. Akhmad Rizali Saidy, dan Kepala Dinas Pertanian Kalsel Ir. H. Syamsir Rahman.
“Dukungan juga datang dari para petani, UPJA, Brigade Pangan, dan seluruh stakeholder yang menantikan agar aplikasi ini segera diimplementasikan,” pungkas Amarullah.
Dengan peluncuran Si Sapa Intan, Kalimantan Selatan melangkah menuju pertanian yang efisien, terintegrasi, dan berbasis teknologi untuk mewujudkan pertanian berkelanjutan pada masa depan.
Baca juga: Pemprov Kalsel upayakan satu juta ton produksi padi 2024
COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Selatan 2025
Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Pertanian Dinas Pertanian Kalsel Dr. Amarullah di Banjarbaru, Jumat, mengatakan Si Sapa Intan merupakan sistem berbasis digital yang memungkinkan pemantauan dan evaluasi data alsintan secara real time, meliputi lokasi, jenis, kondisi, dan status pemanfaatan alat.
Baca juga: Kalsel programkan pompanisasi untuk perluas lahan pertanian
“Tujuan utama Si Sapa Intan adalah menciptakan database alsintan yang akurat dan terintegrasi, sehingga pemerintah bisa memantau sejauh mana alat tersebut dimanfaatkan, sekaligus memastikan pengelolaan dan distribusi merata,” ujarnya.
Ia mencontohkan, dengan sistem ini kebutuhan lintas wilayah dapat dijembatani.
“Jika satu daerah kekurangan alsintan, sementara di tempat lain ada yang belum digunakan, maka alat tersebut bisa dipinjamkan. Semua saling terkoneksi,” katanya.
Lebih dari sekadar pengelolaan data, kata Amarullah, Si Sapa Intan diharapkan mampu mentransformasi sektor pertanian melalui digitalisasi, sehingga menjadi daya tarik generasi muda untuk menekuni pertanian dengan pendekatan modern.
“Pertanian adalah sektor unggulan yang berkelanjutan. Dengan digitalisasi, kami ingin petani milenial merasa bangga dan tertarik masuk ke sektor ini,” tegasnya.
Baca juga: Pj Bupati HSS: 30 ribu hektare lahan pertanian masuk masa panen
Inovasi tersebut mendapat dukungan luas dari Kementerian Pertanian, Balai Penelitian Pertanian, BBPP Binuang, Pemerintah Provinsi Kalsel, serta pelaku utama pertanian seperti kelompok tani, gapoktan, dan Unit Pelayanan Jasa Alsintan (UPJA).
Sejumlah tokoh juga menyatakan dukungan, di antaranya Plt Irjen Kementan RI Tin Latifah, Sekretaris Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Kementan Mulyono, Dekan Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat Prof. Akhmad Rizali Saidy, dan Kepala Dinas Pertanian Kalsel Ir. H. Syamsir Rahman.
“Dukungan juga datang dari para petani, UPJA, Brigade Pangan, dan seluruh stakeholder yang menantikan agar aplikasi ini segera diimplementasikan,” pungkas Amarullah.
Dengan peluncuran Si Sapa Intan, Kalimantan Selatan melangkah menuju pertanian yang efisien, terintegrasi, dan berbasis teknologi untuk mewujudkan pertanian berkelanjutan pada masa depan.
Baca juga: Pemprov Kalsel upayakan satu juta ton produksi padi 2024
Editor : Taufik Ridwan
COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Selatan 2025