Pandemi COVID-19 yang banyak membawa dampak kesehatan dan sosial ekonomi hingga kini masih terjadi hampir di seantero nusantara bahkan dunia.

Pandemi akibat virus yang banyak menyerang sistem pernapasan tersebut, juga telah banyak meninggalkan duka mendalam bagi anak-anak di Kalimantan Selatan, karena kedua orangtuanya meninggal akibat serangan mematikan virus COVID-19 ini.

Tidak sedikit, anak-anak di Kalsel khususnya dan di Kalimantan umumnya, yang kehilangan orang tua karena dampak serangan Coronavirus Disease of 2019 ini, sehingga dikhawatirkan mereka tidak bisa melanjutkan sekolah.

Melihat kondisi tersebut, Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah XI Kalimantan, Profesor Udiansyah langsung memberikan arahan kepada seluruh PTS di bawah binaannya, untuk membantu semaksimal mungkin, agar anak-anak yang ditinggal orang tuanya akibat COVID-19, tetap melanjutkan kuliah melalui beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP).

"Bapak/Ibu Pimpinan PTS, sehubungan kondisi pandemi ini, saya berharap jika ada anak lulusan SMA/MA/SMK yang bapak ibu nya atau bapaknya meninggal dan membuat yang bersangkutan batal kuliah, mohon diusahakan bisa kuliah di kampus Bapak/Ibu dengan diutamakan diberikan program KIP Kuliah," katanya sambil mengatakan, surat tersebut telah disampaikan ke seluruh PTS di Kalimantan.

Hal tersebut seperti yang dilakukan oleh Profesor Udiansyah, yang mengunjungi langsung salah seorang calon mahasiswa yang batal melanjutkan kuliah, karena kedua orang tuanya meninggal akibat COVID-19 di Banjarbaru.

Adalah Azza Ilman Kustianto (18) anak pertama dari empat saudara pasangan almarhum Dwi Kustianto dan almarhumah Sarjiyah, harus mengurungkan niat untuk melanjutkan kuliah di Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Azza mengaku, kendati telah diterima sebagai mahasiswa baru di ULM, namun karena kedua orang tuanya meninggal pada akhir Juli dan awal Agustus 2021 secara berturut-turut, dia terpaksa memendam dalam-dalam asannya, untuk melanjutkan ke perguruan tinggi.

Kakak dari Sabrina Sabilillah Kustianto (15), Aqila Sabilillah Kustianto (8) dan Kansha Arsila Kustianto (3,5) tersebut, memilih untuk tidak melanjutkan kuliah, karena berniat untuk bekerja, demi membantu tante dan pamannya, membesarkan adik-adiknya.

Sepeninggalan kedua orangtuanya, kini Azza dan seluruh adiknya bersama keluarganya di Banjarbaru.

Melihat kondisi tersebut, Profesor Udiansyah tergerak untuk mendatangi langsung keluarga korban, untuk melihat kondisi anak-anak yang kini perlu mendapatkan dukungan dari seluruh pihak.

Selain untuk menyampaikan rasa bela sungkawa yang mendalam, kedatangan Prof Udiansyah pada Kamis (26/8/2021) sore, juga untuk menyemangati mereka, agar tetap bisa melanjutkan hidup dan pendidikannya, tanpa rasa khawatir.

Prof Udiansyah membujuk, agar Azza tetap bersemangat untu melanjutkan kuliah sesuai yang dia inginkan, agar ke depan bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik, sehingga bisa mendukung seluruh adik-adiknya.

"Saya sangat berharap, Azza tetap bisa melanjutkan kuliah dengan biaya sepenuhnya ditanggung oleh pemerintah, bukan hanya biaya kuliah persemester, tetapi juga biaya hidup selama kuliah empat tahun," kata Prof Udiansyah, berusaha membangkitkan asa Azza untuk bisa melanjutkan pendidikan.

Prioritas

Menurut Prof Udiansyah, sebagaimana arahan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi Prof Nizam, anak-anak Indonesia tidak boleh pupus kuliah karena alasan tidak bisa bayar.

"Tidak boleh anak-anak Indonesia pupus harapannya untuk kuliah, karena tidak bisa bayar kuliah. Pemerintah harus hadir," kata Prof Nizam dalam setiap kesempatan, mengingatkan agar seluruh pihak terkait peka terhadap kondisi anak-anak bangsa.

Berdasarkan arahan tersebut, Prof Udiansyah meminta agar seluruh PTS di Kalimantan untuk bergerak dan hadir mengulurkan tangan untuk anak-anak yang ditinggalkan orang tuanya, agar tetap bisa melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi.

Seperti yang terjadi pada Azza, Prof Udiansyah juga akan mengupayakan untuk bertemu Rektor ULM agar Azza bisa tetap diterima di PTN tempat dia lulus saat mengikuti UTBK.

Namun, kalau ternyata tidak bisa di ULM, Prof Udiansyah mempersilahkan Azza memilih seluruh perguruan tinggi swasta di Kalimantan yang dia mau.

Prof Udiansya minta, seluruh PTS di Kalimantan memprioritaskan seluruh mahasiswa dan calon mahasiswa korban COVID-19 untuk mendapatkan biasiswa berupa kuliah gratis.

Menurut dia, tidak boleh ada mahasiswa atau calon mahasiswa yang tidak bisa melanjutkan studinya, karena ditinggal orang tuanya akibat COVID-19.

Seluruh PTS harus memberikan perhatian terhadap anak-anak yatim  akibat terdampak COVID-19 yang ingin tetap berkuliah, dengan memberikan prioritas penerima beasiswa KIP kuliah," katanya.
Kepala LLDIKTI Wilayah XI Kalimantan Prof Udiansyah menyerahkan bantuan dari LLDIKTI Peduli. (Antaranews Kalsel/Humas LLDIKTI Wilayah XI)

Terhadap tawaran tersebut, Azza mengaku belum bisa memberikan jawaban, karena harus berpikir ulang dan perlu musyawarah dengan seluruh keluarga.

Kendati keluarga Azza memberikan dukungan penuh dan menyerahkan seluruh keputusan kepada Azza, tetapi hingga Prof Udiansyah pulang, masih belum mendapatkan jawaban.

Bahkan, sesaat sebelum pulang, Prof Udiansyah yang sangat berharap Azza bisa mengejar cita-citanya untuk kuliah, memberikan nomer telp yang bisa dihubungi sewaktu-waktu oleh Azza.

Prof Udiansyah berharap, seluruh anak-anak di Kalsel bahkan Kalimantan korban COVID-19, tidak patah semangat untuk bisa menatap masa depannya dengan lebih baik, karena pemerintah akan selalu hadir untuk mereka.

Pada kesempatan tersebut, Prof Udiansyah juga menyerahkan bantuan dari LLDIKTI Peduli untuk Azza dan adik-adiknya.



 

Pewarta: .

Editor : Ulul Maskuriah


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Selatan 2021