Pulau Nami, salah satu destinasi wisata favorit yang berlokasi tidak jauh dari kota Seoul, Korea Selatan, menawarkan pemandangan yang berbeda di setiap musim kepada para turis mancanegara.

Pulau Nami, atau Nami Island, terletak di Provinsi Gangwon, berjarak sekitar 1,5 jam berkendara dari pusat kota Seoul. Untuk menyeberang ke Nami, pengunjung harus naik kapal penyeberangan dengan waktu tempuh sekitar 20 menit. Atau jika berani, pengunjung bisa memilih flying fox Namiseom Zip Wire yang hanya memakan waktu sekitar lima menit untuk sampai ke pulau itu.

Baca juga: Peternak menunggu destinasi wisata susur rawa

Atmosfer wisata Nami sudah terasa sejak masih di pelabuhan, pengunjung akan disambut gerbang "imigrasi" Republik Naminara, negara imajiner tempat wisata tersebut. Wisatawan perlu memiliki "visa" alias tiket masuk yang dibanderol sekitar 13.000 won (sekitar Rp155 ribu) untuk wisatawan asing, termasuk tiket kapal penyeberangan pulang-pergi.

Kapal penyeberangan ke Nami tersedia setiap 20 menit sekali. Dek kapal dihiasi bendera dari berbagai negara. Saat Antara berkunjung pada awal Juli, bendera Indonesia berada di haluan kapal, berdampingan dengan bendera Korea Selatan.

Pulau Nami menawarkan keindahan alam dan sangat kontras dengan kota Seoul yang metropolitan. Di Nami, pengunjung akan berjalan di jalan berpasir yang dilindungi pepohonan di sisi kanan dan kiri.

Baca juga: Ini cara Kemenpar promosikan kuliner ke luar negeri

Saat musim panas, pohon-pohon di Nami tampak rindang berhias dedaunan nan hijau sehingga menutupi terik matahari. Meskipun jalan setapak berada di antara pepohonan, Nami jauh dari kesan hutan belantar. Justru perpaduan tempat wisata modern yang menyatu dengan alam yang disuguhkan.

Jika baru pertama kali datang ke Nami, pengunjung mungkin akan terkesan dengan bagaimana Nami menyambut para wisatawan. Pulau itu memiliki patung snowman, orang-orangan salju, yang dihiasi tulisan selamat datang dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia.

Baca juga: Pemkot Banjarmasin perkuat keterlibatan penggiat wisata
 
Patung orang-orangan salju di Nami Island, Korea Selatan, berisi ucapan dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia. (ANTARA News/Natisha Andarningtyas)


"Wisatawan Indonesia masuk ke lima besar pengunjung Nami," kata CEO atau Presiden Nami Island, Myeong Jun Jeon, saat menerima kunjungan Antara dalam program program kolaborasi organisasi media ASEAN dan Korea yang digagas Korea Press Foundation pada awal Juli 2019.

Ikon orang-orangan salju itu diambil dari salah satu adegan dalam film "Winter Sonata" karena Nami merupakan lokasi syuting drama Korea Selatan yang terkenal itu.

Gebrakan "Winter Sonata"
Serial televisi "Winter Sonata" bukan hanya penanda popularitas drama Korea di pasar hiburan internasional, melainkan juga kebangkitan wisata Pulau Nami. Saat menyebut Nami, pulau itu seolah-olah tidak bisa lepas dari "Winter Sonata" yang mempopulerkannya.

Nami, menurut Jeon, sudah menjadi lokasi wisata orang Korea sejak puluhan tahun silam sebelum "Winter Sonata". Pada awal periode 90-an, orang Korea Selatan mulai memikirkan keseimbangan hidup. Setelah berperang dan membangun negeri ginseng yang lantas tersohor berkat industri elektronik, warga Korea mulai merasa perlu memasukkan aktivitas bersantai dalam hidup mereka.
 

Nami menjadi salah satu tujuan wisata mereka, berkat letaknya yang tidak jauh dari pusat kota dan waktu tempuh yang relatif singkat.

Gaya hidup baru yang mulai populer bagi warga Korea Selatan itu membawa serta drama "Winter Sonata" hingga meledak sebagai tayangan populer hingga ke pasar hiburan global. Orang-orang pun penasaran dengan lokasi latar serial "Winter Sonata" yang menunjukkan Pulau Nami dalam empat musim yang berbeda.

"Apalagi waktu itu, Korea menjadi tuan rumah Piala Dunia (2002)," kata Jeon, yang menyatakan pernah tinggal di Indonesia.

Berkat promosi dari mulut ke mulut itu, Nami semakin sering didatangi turis mancanegara dengan jumlah kunjungan setiap tahun mencapai jutaan wisatawan.



Republik Naminara pun berbenah setelah mereka terkenal di mata dunia. Mereka tidak ingin lagi hanya mengandalkan keindahan alam yang dibiarkan se-asli mungkin.

"Kami buat sesuatu supaya wisatawan tertarik untuk kembali ke Nami," kata Jeon.

Namun tetap saja, keindahan alam menjadi atraksi utama di Nami. Setiap musim, jalan setapak Nami yang dikelilingi pepohonan akan menawarkan warna-warna yang berbeda.

Jalanan itu akan menguning berhias daun-daun yang rontok saat musim gugur. Sedangan saat musim dingin tiba, jalanan setapak akan dipenuhi salju sebagaimana dalam serial "Winter Sonata".
 

Nami juga kerap menjadi tuan rumah penyelenggaraan festival, salah satunya musik dengan menawarkan suasana menonton konser di tengah hutan.

"Tiap musim, konten kami berbeda," kata Jeon.

Nami kembali memperbarui layanan mereka menyusul kunjungan wisatawan yang berasal dari latar belakang kerpecayaan dan budaya yang berbeda. Pengelola pulau Nami lantas membangun sejumlah restoran halal hingga menyediakan ruangan untuk beribadah.



Aktivitas di Nami
Pengunjung tidak perlu jadi penggemar "Winter Sonata" untuk menikmati wisata di Nami meskipun hampir sudut pulau itu mengingatkan pada serial drama yang dibintangi Bae Yong Joon, Choi Ji-woo, Park Yong-ha, dan Park Sol-mi itu.

Saat Antara berkunjung pada hari kerja, Nami tidak begitu ramai sehingga tidak perlu berdesakan untuk berfoto di tempat-tempat yang menarik. Nami memang memiliki banyak tempat menarik untuk berfoto, sekadar berfoto di bawah pepohonan hingga patung-patung buatan untuk menambah keceriaan di pulau tersebut.
 

Selain napak tilas "Winter Sonata", pengunjung juga bisa berbelanja di toko oleh-oleh khas Nami, antara lain kue berbentuk orang-orangan salju. Sepanjang jalan utama Nami dipenuhi kafe di kanan-kirinya.

Jika menyukai tempat yang sepi, pengunjung dapat berjalan ke ujung barat atau selatan pulau dan menjauh dari jalan utama. Nami bisa dikelilingi dengan berjalan kaki dalam waktu dua jam. Semakin jauh dari jalan utama, semakin sedikit orang yang mampir.

Jika beruntung, Anda bisa bertemu tupai yang berlompatan melintas atau mengejar kelinci yang memang hidup di tempat tersebut.
 

Pewarta: Natisha Andarningtyas

Editor : Ulul Maskuriah


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Selatan 2019