Kecamatan Pulau Sembilan, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan, beberapa hari ini terancam terisolasi karena terjadi gelombang tinggi dan tidak tersedianya sarana transportasi laut.


"Hampir 10 hari ini tidak ada kapal yang berani turun ke laut karena gelombang tinggi," kata Kepala Sekolah SMAN Pulau Sembilan, Palawagau, Selasa.

Bahkan kapal perintis yang biasanya melayani pelayaran rute Kotabaru-Pulau Sembilan dan beberapa pulau yang lainnya hingga saat ini tidak beroperasi.

Akibat tidak adanya transportasi tersebut, persediaan barang sembilan bahan pokok juga mulai menipis.

"Kondisi ini sedikit banyak mempengaruhi harga barang di Pulau Sembilan," terangnya.

Mengatasi kondisi sulit tersebut, nelayan dan masyarakat di Pulau Sembilan membeli belanja lebih banyak dari biasanya.

"Bahkan dalam satu rumah tangga, mereka ada yang membeli beras dua hingga tiga karung," imbuhnya.

Padahal, kondisi normal masyarakat di Pulau Sembilan biasa-biasa saja dalam membeli persediaan bahan makanan.

Masyarakat Pulau Sembilan berharap, pemerintah segera mengoperasikan kembali kapal perintis yang tidak lagi beroperasi karena sesuatu hal.

"Untung kemarin ada kapal penges (nelayan pengumpul ikan) kami bisa ikut menumpang," terangnya.

Ia mengaku tidak mungkin mencarter kapal dari Pulau Sembilan ke Kotabaru, karena biayanya cukup mahal.

Marabatuan (pulau Sembilan)-Lontar saja carterannya sudah Rp1,250 juta, belum lagi kalau langsung ke Kotabaru bisa dua kali lipat.

Sementara itu, Pulau Sembilan merupakan salah satu kecamatan dari 20 kecamatan di Kabupaten Kotabaru yang berada di Selatan Kotabaru berbatasan dengan wilayah Kabupaten Sumenep dan Gresik Jawa Timur.

  Jarak Pulau Sembilan dengan Kabupaten Kotabaru diperkirakan sekitar 84 Mill/D.
(T.I022/B/N005/N005) 08-01-2013 14:42:06


: Hasan Zainuddin

COPYRIGHT © ANTARA 2026