Kepala Kantor perwakilan BKKBN Kalimantan Selatan Sunarto mengkhawatirkan daerah kaya sumber daya alam ini mengalami ledakan penduduk bila pemerintah tidak mampu menurunkan prosentase angka kelahiran dari 2,6 persen menjadi 2,1 persen per tahun.

Menurut Sunarto di Amuntai, Jumat, dalam kurun lima tahun terakhir rata-rata anak yang dilahirkan di masa reproduksi di Kalsel berada dalam posisi tetap yakni 2,6 persen pertahun.

Angka tersebut masih jauh di atas target penurunan angka kelahiran yang sedang diupayakan oleh BKKBN dengan target penurunan 2,1 persen pertahun dari angka kelahiran.

"Jika selama kurun waktu 5 tahun saja kita belum bisa menurunkan prosentase ini, maka sisa waktu selama 2 tahun ke depan kita perlu kerja keras yang luar biasa untuk menurunkannya," katanya.

Mengantisipasi kemungkinan terjadinya ledakan penduduk tersebut, kini BKKBN terus berupaya mengatasi berbagai hambatan yang terjadi untuk mempercepat penurunan prosentase angka kelahiran.

Beberapa permasalah yang masih dihadapi dalam pelayanan program KB di Kalsel adalah banyaknya masyarakat yang mengharapkan layanan kontrasepsi jangka pendek, seperti suntikan dan pil KB.

Sementara anggaran untuk pelayanan KB tersebut masih terbatas, misalnya saja untuk bisa memberikan pelayanan pemasangan kontrasepsi medik operasi wanita dari anggaran pemerintah satu tahun hanya Rp550 ribu, sedangkan fakta di lapangan memerlukan biaya Rp1,6 juta.

"Dengan demikian kita sangat berharap adanya dukungan pemerintah kabupaten maupun provinsi untuk mendukung program ini," katanya.

Persoalan lain, belum meratanya fasilitas pelayanan KB yang sesuai dengan standar operasional dan peraturan kementerian kesehatan, maka tidak mudah mudah memberikan fasilitas pelayanan KB dengan cepat, khsusnya bagi daerah-daerah yg jauh dari perkotaan.

Kondisi tersebut diperparah dengan kecenderungkan masyarakat yang melakukan nikah di usia muda.

"Masih banyak keluarga yg memiliki anak lebih dari tiga orang karena di masyarakat ada ungkapan-ungkapan dan tradisi yang mengarah kepada keinginan untuk memiliki banyak keturunan," kata Sunarto.

Jumlah penduduk Kalimantan Selatan sebanyak 3,8 juta jiwa, atau ada penambahan 642 ribu jiwa dibanding dengan tahun 2000 yang berarti laju pertumbuhan penduduk di Kalsel mencapai 1,99 persen pertahun.

Jumlah tersebut jauh lebih tinggi dibanding angka pertumbuhan penduduk rata-rata nasional yang hanya 1,49 pertahun.

Melihat kenyataan ini, Sunarto menduga Kalsel mulai menjadi magnet bagi pendatang dari luar kalsel untuk mencari penghidupan,

"Jika SDM pendatang ini bagus tentu akan memberi manfaat bagi daerah, namun jika sebaliknya tentu akan menambah masalah sosial, ekonomi dan keamanan atau kriminalitas yang setiap tahun penanganannya semakin sulit," katanya.

Sunarto berharap, tingginya laju pertumbuhan penduduk di Kalsel ini disebabkan karena faktor migrasi semata, karena jika angka laju penduduk yang 1,99 persen terjadi karena tingginya angka kelahiran, maka ini akan menjadi pekerjaan rumah bagi jajaran kependudukan dan KB untuk diselesaikan.

Khusus untuk pencapaian target peserta KB, Sunarto optimistis Kalsel bisa mencapainya, hal ini berdasarkan kondisi peningkatan program pada tahun sbelumnya dimana Kalsel berada pada peringkat 10 besar,

"Namun hingga September ini peringkat pencapaian Kalsel berada di peringkat 21 sehingga saya berharap terjadi lompatan pencapaian dalam dua bulan tersisa sehingga Kalsel bisa kembali berada diperingkat atas," harapnya.

Karenanya melalui pertemuan pemantapan program KB ini, Ia berharap kabupaten yang berhasil meningkatkan jumlah peserta KB bisa berbagi pengalaman kepada kabupaten lain yang masih rendah pencapaiannya dan mencarikan solusi terhadap masalah yang dihadapi.

Sunarto menargetkan hingga akhir 2012 bisa meraih pencapaian target peserta KB hingga 100 persen di seluruh kabupaten kota.

"Kita akan berupaya keras agar dalam waktu dua bulan yang tersisa ini seluruh jajaran BKKBN bisa mencapai lompatan untuk mengejar target 100 persen peserta program KB di seluruh kabupaten kota," katanya pada pertemuan pemantapan Program Keluarga Berencana (KB) se-Kalimantan Selatan yang dilaksanakan di Kota Amuntai.

Hingga September, kata Sunarto pencapaian peserta program KB di Kalsel baru sekitar 78 persen, masih tersisa sekitar 20 persen untuk diselesaikan hingga akhir tahun.

Meski diakuinya sudah ada layanan kontrasepsi yang pencapaiannya justru berhasil meraih rekor MURI yakni metode MOP dengan pencapaian 320 persen pada tahun lalu.

Namun untuk jenis pelayanan kontrasepsi terlebih yang bersifat jangka panjang masih perlu upaya peningkatan dari seluruh jajaran Kantor KB di seluruh kabupaten

"berbeda dengan jenis kontrasepsi yang jangka pendek seperti suntikan, pil dan kondom yang lebih disukai kaum ibu sudah mencapai presentase 78 persen," ungkap Sunarto.

Demikian pula untuk metode implan katanya ia optimis bisa mencapai target 100 persen pada akhir tahun ini.

"Kendala pelayanan kontrasepsi masih ditemui pada metode medik operasi wanita dan IUD," katanya

Menurut dia, pemasangan alat kontrasepsi berupa medik operasi wanita memerlukan pelayanan spesifik disamping perlu penanganan tenaga dokter yang sudah terlatih serta diperlukan ruang untuk pemulihan (recovery).

Karena peserta metode kontrasepsi ini harus mengalami tahap operasi dan mengalami bius total, sehingga perlu ruang operasi seperti layaknya ruang operasi di rumah sakit.

Sementara untuk metode kontrasepsi IUD kurang diminati kaum Ibu karena dalam pemasangan alat kontrasepsi ini menyentuh organ yang sangat sensitif sehingga lebih cenderung dihindari.


Editor : Asmuni Kadri

COPYRIGHT © ANTARA 2026