Wakil Gubernur Kalimantan Selatan Rudy Resnawan di Banjarmasin, Selasa mengatakan selama ini kampanye agar masyarakat tidak membuang air besar di sungai belum bisa maksimal karena tidak dibarengi dengan aksi pembangunan jamban rumah tangga di daratan.
"Selama ini jamban keluarga dibangun dengan biaya masyarakat sendiri, sehingga banyak warga yang enggan untuk melaksanakan program tersebut," katanya.
Banyaknya masyarakat yang memilih membangun jamban di atas sungai dengan biaya lebih murah tersebut, membuat pencemaran di sungai masih sulit diatasi.
Dengan demikian, tambah Wagub, pada 2013 ini Pemprov Kalsel mengalokasikan dana dari APBD sebesar Rp1,5 miliar untuk pembangunan jamban keluarga dengan harapan masyarakat tidak lagi membuang air besar di sungai.
Selain itu, WC tersebut juga akan dilengkapi dengan pompa air, sehingga tidak ada alasan lagi bagi masyarakat tidak ada air sehingga WC tidak bisa digunakan.
"Tidak jarang begitu dibangunkan WC, masyarakat tetap memilih ke sungai dengan alasan tidak ada air, saya harap alasan tersebut sudah tidak ada lagi," katanya.
Program pembangunan seribu WC ini, merupakan salah satu upaya pemerintah untuk menjaga kesehatan masyarakat melalui minimalisasi pencemaran sungai dari bakteri yang disebabkan oleh sampah rumah tangga dan bakteri e-coli.
Sebagaimana diketahui, sungai merupakan tumpuan hidup masyarakat Banjarmasin sejak dulu hingga sekarang, hampir sebagian besar kegiatan warga Banjarmasin tidak terlepas dari sungai.
Kegiatan tersebut mulai dari mencuci, memasak, mandi, transportasi hingga kegiatan ekonomi dilakukan di sungai.
Sayangnya, kondisi air sungai di Kalimantan Selatan kini tercemar berbagai logam berat dan sampah rumah tangga, yang menjadi salah satu pemicu timbulnya penyakit autis, gangguan saraf, dan ginjal.
Kepala Bidang Pemantauan dan Pemulihan Badan Lingkungan Hidup Daerah Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan, Ninuk Murtini, mengatakan dari hasil pemeriksanaan kondisi air sungai beberapa titik hasilnya sebagian besar air sungai tercemar dengan rata-rata kandungannya di atas ambang batas.
Pencemaran sungai tersebut antara lain, untuk kandungan mangan atau Mn seharusnya hanya 0,1 miligram tapi berdasarkan hasil penelitian di Sungai Barito pada April 2012 telah mencapai 0,3135 miligram atau jauh di atas ambang batas.
Titik terparah berada di Sungai Barito di sekitar Pasar Gampa Marabahan, Kabupaten Barito Kuala, selain itu di Hilir Pulau Kaget mencapai 0,2097 miligram dan Hulu Kuripan atau di sekitar kantor Bupati Barito Kuala mencapai 0.2029 miligram.
Menurut Ninuk pemeriksanaan tidak hanya dilakukan di Sungai Barito tetapi di sungai lainnya dengan total pengambilan sampel sebanyak 29 titik yaitu enam titik di sungai Barito, enam titik sungai Martapura dan tujuh titik di Sungai Negara. C
Editor : Asmuni Kadri
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.