Amplop soal matematika peserta ujian nasional di SMA Bakumpai Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, kosong alias tidak ada kertas soalnya sehingga 24 siswa sekolah tersebut terancam tidak bisa mengikuti ujian.


Sekretaris Dinas Pendidikan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan Herman Taufan di Banjaramasin Selasa mengatakan, pihaknya telah melaporkan masalah tersebut ke panitia dan kini telah diusahakan agar soal-soal tersebut bisa sampai ke tangan panitia ujian nasional daerah tepat waktu.

"Soal-soal siswa yang tertinggal tersebut, kini telah dikirimkan dari percetakan di Semarang dengan menggunakan pesawat Sriwijaya Air, diharapkan pada saat pelaksanaan ujian nasional, soal matematika tersebut telah siap," katanya.

Selain di SMA Bakumpai, pada hari pertama pelaksanaan ujian nasional, di beberapa sekolah di daerah ini, juga kekurangan lembar soal ujian seperti di SMA Tiga PGRI Banjarmasin dan SMA I Banjarmasin.

Mengatasi kekurangan tersebut, panitia segera menutupinya dengan kelebihan soal yang mungkin ada di tempat lain, kalaupun tidak ada kelebihan, soal yang ada di fotokopi yang disaksikan tim pengawas dari kepolisian dan perguruan tinggi.

"Kendati terjadi kekurangan soal di beberapa sekolah, namun bisa langsung diatasi, sehingga secara umum ujian nasional di Kalsel hingga kini berjalan lancar," katanya.

Menurut Herman, hingga kini pihaknya belum menerima pengaduan adanya kecurangan dalam pelaksanaan ujian nasional, baik yang dilakukan guru maupun siswa.

Dari pemantauan, para peserta UN mengerjakan soal dengan tenang sehingga diharapkan mendapatkan hasil yang terbaik, apalagi hasil ujian nasional bukan satu-satunya standar kelulusan siswa.

Memperlancar pelaksanaan ujian nasional, kata Herman, pihaknya juga telah meminjamkan tiga mesin scanning kepada panitia ujian yaitu Perguruan Tinggi Negeri Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin. Hasil seluruh siswa peserta UN tersebut, nantinya akan diperiksa dan diawasi oleh perguruan tinggi negeri terbesar di Kalsel tersebut.

Tentang menyebarnya SMS kunci jawaban di kalangan siswa di beberapa sekolah di Banjarmasin, menurut Herman, hal tersebut tidak terlalu mengganggu kelancaran pelaksanaan UN, karena sebagian besar peserta tidak mempercayainya.

Apalagi dengan sistem yang ditetapkan saat ini, tidak memungkinkan para siswa bisa mendapatkan kunci jawaban. "Target kita tahun ini kita mendapatkan nilai kelulusan cukup tinggi dengan tingkat kejujuran yang tinggi juga," katanya./B/D 




Editor : Imam Hanafi

COPYRIGHT © ANTARA 2026