Kekosongan stok gula ditingkat distributor Kalimantan Selatan (Kalsel) membuat sebagian usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) terutama yang bergerak disektor makanan menghentikan produksi.
       
Pembina UMKM Kalsel Aftahudin di Banjarmasin, Selasa mengatakan, jumlah UMKM Kalsel yang kini di bawah binaannya tidak kurang dari 600 UMKM antara lain pembuat kue dan mie ayam.
       
Jumlah tersebut, kata dia, belum termasuk UMKM yang tidak terdaftar yang diperkirakan mencapai 1.500 unit lebih.
       
Dalam tiga hari terakhir sebagian UMKM terutama industri kue terpaksa menghentikan produksi karena stok gula rafinasi untuk industri dipasaran kosong.
       
Kondisi tersebut membuat sebagian besar industri kue terpaksa meliburkan karyawan yang jumlahnya ratusan orang, katanya.
       
Begitu juga dengan usaha mie ayam mulai mengeluhkan terjadinya kekosongan stok gula.

Menurut Aftahudin, gula dimanfaatkan pengusaha untuk mengawetkan mie agar tidak cepat rusak.
       
"Dampak kelangkaan gula cukup luar biasa bukan hanya banyak industri kecil yang tutup tetapi harga ditingkat eceran juga melambung," katanya.
       
Dari pantauan, harga gula rafinasi ditingkat eceran sebelumnya Rp9.500 perkilogram kini mencapai Rp12.500 perkilogram.
       
Bahkan beberapa pedagang pengecer terpaksa tidak menjual gula yang masih ada karena gejolak harga  yang diprediksi akan terus melambung.
       
"Harga gula dipasaran sangat tidak menentu daripada salah dan rugi lebih baik saya tidak jual gula dulu," kata Mamak Yuli pemilik toko di Banjarmasin.
       
Menurut Aftahudin, bila kelangkaan gula tidak segera diatasi dikhawatirkan memicu inflasi kota Banjarmasin.
       
"Kami sudah meminta pemerintah segera membantu mengatasi masalah ini dan Gubernur Kalsel Rudy Ariffin kini sedang melakukan upaya mengatasi hal tersebut, kita sangat berterima kasih," katanya.
       
Kebtuuhan gula Kalsel untuk industri 3.000-3.500 ton perbulan dan untuk konsumsi 6.000 ton perbulan.
       
Kelangkaan gula antara lain disebabkan penahanan kapal bermuatan 3.700 ton gula oleh Polresta Banjarmasin karena diduga tidak sesuai dengan surat dari Kementerian Perdagangan.
       
Seharusnya gula untuk UMKM Kalsel yang dikirim hanya seribu ton tetapi dikirim 3.700 ton.

Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kalimantan Selatan dilaporkan mengumpulkan seluruh distributor gula untuk membahas kekosongan gula yang terjadi sejak beberapa hari terakhir.
       
Rapat koordinasi dipimpin Plt Kepala Disperindag Kalsel Aksa Zuzaimah di Banjarmasin, Selasa dalam rangka mencari solusi terbaik agar kekosongan gula segera diatasi.
       
"Masalah ini akan segera kita sampaikan ke gubernur untuk dibahas bersama-sama sehingga saya belum bisa memberikan konfirmasi kemungkinan besok Rabu (24/11) baru ada jawaban," katanya.
       
"Biasanya tidak pernah ada masalah jatah gula untuk UMKM sebanyak 10.000 ton untuk tiga bulan selalu dipenuhi," katanya.
       
Pada awal September, kata dia, pihaknya kembali mengirimkan surat ke Dirjen untuk meminta jatah gula Kalsel selama tiga bulan yakni September, Oktober dan November 2010.
       
Ternyata surat tersebut tidak kunjung mendapatkan balasan dan baru pada 8 November surat tersebut mendapatkan persetujuan Dirjen.
       
Mendengar surat SPPGRAP telah keluar kapal yang sebelumnya  dipersiapkan langsung berangkat mengantisipasi agar jangan sampai terjadi kekosongan gula di daerah itu.
       
"Ternyata diluar dugaan pemerintah yang biasanya selalu memenuhi kebutuhan Kalsel 10 ribu ton untuk tiga bulan ternyata hanya dikirim seribu ton. Sementara kapal yang mengangkut gula sekitar 150 kontainer tersebut sudah terlanjur berangkat," katanya.
       
Akibatnya karena muatan tidak sesuai dengan surat Dirjen terpaksa kapal ditahan untuk sementera waktu sambil menunggu jalan keluar terbaik dari pemerintah.*B*


: Abdul Hakim Muhiddin

COPYRIGHT © ANTARA 2026